Skip to content

BUKU TAMU

Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat datang di Soal Jawab Agama Islam. Di sini pembaca boleh menorehkan kesan, pesan, ataupun pertanyaan.

7 Komentar leave one →
  1. Maret 26, 2009 1:47 pm

    Assalu’alaikum Wr Wb.

    Saya sangat tertarik dgn web ini, dan mengharap web kita bisa “link” agar saya bisa segera mengetahui artikel terbaru daru web ini.

    Web saya adalah http://www.takaful99.blogspot.com, bagian dari web PT Takaful, asuransi pertama dan terbaik syariah.

    Syukron & wassalam
    cindra rusni
    rusni_takaful@yahoo.com
    http://www.takaful99.blogspot.com
    ———–
    wa’alaikum salam
    dengan senang hati untuk bisa bershlaturrahim dan berta’awanu ‘alal birri wat-taqwa di dunia maya dengan cara saling membuat tautan (link). Kita tunggu…. wassalam

  2. Mei 7, 2009 10:18 am

    RESPON UNTUK TAHLILAN DAN YASINAN UNTUK ORANG MATI :

    Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

  3. Nurul permalink
    September 16, 2009 4:25 pm

    assalamualaikum wr wb,, ustadz/ah

    saya mau tanya,, apa sih hukumnya melafadzkan niat (dengan mengucapa nawaitu…atau usholli…dsb) dalam beribadah? mohon dijelaskan sekaligus mohon diterangkan dalilnya.

    jazakumullah khairan katsiiran

    wassalamualaikum wr wb

    —————-
    ulama sepakat bahwa niatr adalah unsur penting di dalamn ibadah. Ada di antara mereka yang menganggap sebagai rukun, dan ada pula yang menganggap sebagai syarat. Dalil tentang pentingnya niat ini adalah hadis yang sangat masyhur;
    إنما الأعمال بالنية وإنما لكل امرىء ما نوى ,
    Setiap perbuatan dengan niat, dan setiap orang dibalas sesuai dengan niatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).
    Meskipun para ulama’ sepakat akan pentingnya niat, tetapi melafalkan niat itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Padahal aktifitas ibadah itu harus dengan contoh nabi, sehingga jika nabi tidak melakukannya maka tidak perlu mengada-ada….

  4. kepinghidup permalink
    Desember 19, 2009 2:38 pm

    Assalamualaikum ww.. salam kenal terima kasih ilmunya..

  5. Saidh permalink
    Januari 28, 2010 9:57 pm

    Tanya pak ustad. D0’a y bagaimanakah y pling mujarab

    Do’a apaan?

    • Januari 30, 2010 2:40 pm

      Bismillahirrohman nirrohim.
      Klo kita benar2 niat, yakin & takawal,
      doa itu yang paling mujarab, untuk semua doa.

  6. Prasetio widodo permalink
    April 25, 2010 3:46 pm

    Syukron, jazakallahu khayra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: