Skip to content

Cara Berta’aruf

Desember 10, 2009

Soal:
Ustadz pernah menjelaskan bahwa wanita dan laki-laki tidak boleh salling memandang, jika demikian, bagaimanakah cara berta’aruf yang benar menurut islam? Dan apakah wanita dan laki-laki tidak boleh saling berdialog jika bukan mahram?
Lina Qonita Aisyah Kusuma, Axel

Memang benar, antara laki-laki dan wanita memang tidak boleh saling memandang. Larangan ini berdasarkan kepada dalil syar’i, yaitu ayat al-Qur’an dan hadis nabi. Namun dalam hal ini, ada beberapa pengecualian. Di antaranya adalah jika memandang itu untuk keperluan pernikahan, yang biasa disebut dengan an-nadhar. Pengecualian ini pun ditetapkan berdasarkan kepada dalil syar’i pula, sebagaimana hadis;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melamar wanita, jika ia mampu untuk melihat yang mendorongnya untuk melakukan pernikahan hendaklah ia lakukan” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّهُ خَطَبَ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Dari al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa ia melamar seorang wanita, maka Rasulullah saw bersabda, ”Lihatlah ia karena sesungguhnya melihatnya itu akan kuat untuk menyatukan kalian” (HR at-Tirmidzi)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ خَطَبَ رَجُلٌ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ نَظَرْتَ إِلَيْهَا ». قَالَ لاَ. فَأَمَرَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Ada seorang lelaki yang melamar seorang wanita dari kalangan Anshar, lalu Rasulullah saw bersabda kepadanya, ”Apakah kau sudah melihatnya? Ia menjawab, ”Belum”. Maka beliau emeriintahkan untuk melihatnya (HR an-Nasa’i)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ قَالَ خَطَبْتُ امْرَأَةً فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهَا فِى نَخْلٍ لَهَا فَقِيلَ لَهُ أَتَفْعَلُ هَذَا وَأَنْتَ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « إِذَا أَلْقَى اللَّهُ فِى قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا ».

Dari Muhammad bin Maslamah, ia berkata; Aku melamar seorang wanita maka aku berusaha untuk bisa melihatnya, lalu ia ditanya, ”Apakah kau akan melakukannya sedangkan kau adalah shahabat nabi saw?”, (Muhammad bin Maslamah) mengatakan, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ”Jika Allah telah meletakkan di dalam hati seseorang (keinginan) untuk melamar seorang wanita, maka tidak apa-apa ia melihatnya” (Ibnu Majah dan Ahmad)

Penjelasan Rasulullah tentang melihat ini masih umum, maka para ulama’ berbeda pendapat dalam menentukan batasan mana yang boleh dilihat. Imam asy-Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah membatasi yang boleh dilihat adalah wajah dan telapak tangan.

Selain itu dibolehkannya melihat ini dengan persyaratan kedua belah pihak, atau salah satu dari keduanya sudah akan menikahi, dan ada harapan untuk diterima lamarannya. Tetapi Imam Hanafi mengatakan, syaratnya cukup dengan adanya niat untuk menikahinya. Dengan demikian, kalau hanya untuk berta’aruf sekedar berkenalan, kalau sudah banyak kenal baru akan memutuskan mau menikah atau tidak, tidak termasuk yang diizinkan oleh syari’at.

Tetapi kalau di antara mereka tidak mau melihat, merasa cukup untuk mengenal dengan menanyakan kepada orang yang mengenalnya, hal itu pun juga boleh.

Adapun dialog antara lelaki dan wanita yang bukan mahram secara umum pun dilarang. Dan inipun juga ada pengecualiannya, yaitu untuk hal-hal yang dinilai darurat secara syar’i, seperti untuk belajar mengajar, pengobatan, peradilan dan yang sejenisnya. Dalam hal-hal tersebut, dimana ada kepentingan yang tidak bisa dihindarkan adanya dialog, maka diizinkan. Sedangkan jika hanya sekedar untuk hiburan, menghilangkan boring, atau sekedar berkenalan maka hal itu tidak boleh. Meskipun demikian diharapkan kedua belah pihak menjaga diri untuk tidak berlebih-lebihan dan menjaga adab syar’i tentang berbicara.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: