Skip to content

Berpidato dengan Hadis Dla’if

Desember 10, 2009

Soal:
Apa hukumnya orang berpidato dan menyebutkan hadis dlo’if di dalam pidatonya?

Jawab:
Hadis dla’if maksudnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang kepribadiannya tidak meyakinkan, sehingga keaslian hadis tersebut dari Rasulullah saw diragukan.

Para ulama’ ahli hadis berbeda pendapat tentang meriwayatkan hadis dla’if tanpa menyebutkan kedla’ifannya. Sebagain ulama’ mengatakan, bolehnya meriwayatkan hadis dla’if tanpa menyebutkan kedlaifannya jika hadis tersebut tidak berkaitan dengan masalah aqidah, atau tidak berkaitan dengan amal ibadah syar’iyah. Jadi kebolehannya adalah menyebutkan hadis dla’if tentang cerita-cerita, fadla’ilul a’mal, tarhib wa targhib.

Tetapi sebagian ulama’ lagi melarang periwayatan hadis dla’if secara mutlak, baik dalam masalah aqidah, atau sekedar fadla’ilul a’mal.
Perbedaan tersbut terjadi pada hadis dla’if, bukan hadis palsu atau munkar. Maksudnya, hadis yang dla’ifnya masih ringan, seperti karena sebab kelemahan rawinya. Adapun jika hadil yang dla’ifnya parah, seperti rawinya tertuduh pmemalsukan hadis, atau bahkan banyak memalsukan hadis sehingga hadisnya dianggap hadis maudlu’ (palsu) maka ulama’ sepakat tidak membolehkan menyebutkan (meriwayatkan)nya, kecuali dijelaskan kepalsuannya.

Menyebutkan hadis palsu adalah termasuk ke dalam salah satu bentuk berbohong atas nama Rasulullah. Sabda beliau;

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa yang meceritakan hadis dariku sedangkan dia mengetahui bahwa hadis itu dusta maka ia termasuk salah seorang pendusta (HR at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Padahal berbohong atas nama Rasulullah tidak sama dengan berbohong atas nama orang biasa, sebab ancamannya adalah neraka, sebagaimana sabda beliau;

عَنِ الْمُغِيرَةِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ».

Dari al-Mughirah, Aku mendengar rasulullah saw bersabda, sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama seseorang, baragsiapa berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah bersiap menempati tempat duduknya di neraka (HR Muslim)

Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam menyebut hadis. Sebutlah hadis jika memang hadis shahih atau hasan. Apabila hadis dla’if jelaskanlah bahwa itu dla’if. Dan jika kita tidak yakin benar kesahihannya, maka janganlah mengatakan “Rasulullah bersabda”, tetapi kita katakan, “disebutkan dalam riwayat bahwa Rasul bersabda”, atau “konon Rasulullah saw bersabda”.

Kata “Rasulullah bersabda” adalah ungkapan yang tegas. Ungkapan ini mengandung makna kepastian bahwa apa yang diucapkan itu adalah sabda Rasul. Sedangkan ungkapan, “disebutkan dalam riwayat bahwa Rasul bersabda”, atau “konon Rasulullah saw bersabda” adalah ungkapan yang tidak tegas. Ungkapan tidak tegas ini mengandung makna ketidakyakinan apa yang dikatakan itu sebagai hadis, bisa benar hadis bisa tidak.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: