Skip to content

Tahlilan dan Istighatsah

Oktober 10, 2009

Soal:
Mohon penjelasan, apakah tahlilan dan istighotsah itu halal atau haram? Dan apa dalilnya?


Jawab:
Ada banyak istilah yang berkembang di masyarakat mengalami tumpang tindih sehingga tidak jelas maksudnya. Agar jawaban atas persoalan yang ditanyakan ini jelas, tidak mengandung pencampuradukan dan tumpang tindih permasalahan, maka sebelum meninjau dari segi hukum perlu ditinjau terlebih dahulu definisi masing-masing istilah.

a. Tahlilan
Tahlilan, yang dimaksudkan adalah sebuah upacara mendo’akan mayat yang di dalamnya terdapat rangkaian dzikir di antaranya adalah membaca tahlil, laa ilaha illallah. Sesudah ritual dzikir itu selesai lalu ditutup dengan do’a bersama dan makan-makan.

Meskipun upacara ini diisi dengan dzikir-dzikir, tetapi secara keseluruhan adalah bid’ah. Sebab Rasulullah tidak pernah mengajarkan dzikir dengan urutan demikian, dengan ritual demikian, pada waktu tertentu dan untuk keperluan mendo’akan orang yang sudah meninggal. Karena termasuk bid’ah, maka haram dilakukan

b. Istighatsah
Sedangkan istighatsah, artinya adalah memohon pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari kehancuran atau kesengsaraan. Dengan pengertian ini, kita bisa memahami bahwa istighatsah adalah bagian dari do’a, bedanya kalau berdo’a sifatnya umum kalau istighatsah adalah meminta bantuan dan pertolongan agara diselamatkan dari situasi yang sangat membahayakan. Dalam arti seperti ini istighatsah boleh dilakukan

Meminta bantuan secara umum harus dilakukan kepada Allah, sebagaimana firman Allah

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan (al-Fatihah:5)

Meskipun pada asalnya meminta pertolongan adalah kepada Allah, tetapi memohon pertolongan kepada masnusia pun diijinkan oleh Allah jika orang yang dimintai pertolongan itu secara rasional bisa mengerjakannya. Contoh, seorang ustadz meminta tolong kepada salah seorang santri, dengan mengatakan, “Tolong papan tulisnya dihapus”

di dalam al-Qur’an pun disebutkan, bahwa beristighatsah kepada orang yang secara rasional diyakini bisa memberikan bantuan juga dibolehkan, Firman Allah;

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (al-Qashash;15)

Kata ( فَاسْتَغَاثَهُ ) di dalam ayat di atas adalah bentuk madli dari kata istighatsah, yang menunjukkan bolehnya beristighatsah kepada seseorang jika secara rasional orang tersebut bisa dimintai tolong. Tetapi jika secara rasional orang tersebut tidak bisa memberikan pertolongan maka tidak boleh meminta tolong kepadanya. Hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ يَقُولُ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قُومُوا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقَامُ لِي إِنَّمَا يُقَامُ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Dari Ali bin Rabah, bahwa seseorang mendengar Ubadah bin Shamit mengatakan, Rasulullah keluar menemui kami lalu Abu Bakar berkata, berdirilah kalian kita meminta pertolongan kepada Rasulullah saw dari orang munafik ini, lalu Rasulullah saw bersabda, janganlah berdiri kepadaku, tetapi berdirilah kepada Allah (HR Ahmad)

Di dalam riwayat yang lain dikatakan

إنه لا يستغاث بي وإنما يستغاث بالله

Janganlah dimintakan pertolongan kepadaku, hanyalah dimintakan pertolongan kepada Allah

Di dalam hadis ini, Abu Bakar memandang Rasulullah bisa memberikan pertolongan untuk melakukan suatu tindakan kepada orang munafik. Namun Rasulullah saw tidak memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan atas orang munfaik, selama tidak menampakkan kekufurannya. Karena itulah beliau menyarankan agar kaum muslimin meminta bantuan dan pertolongan kepada Allah.

Hadis ini menjelaskan bahwa istighatsah kepada selain Allah, jika yang dimintai pertolongan ada di hadapan dan bisa memberikan pertolonagn boleh. Tetapi jika yang dimintai pertolonagn itu tidak ada di hadapan, atau ghaib, maka termasuk tindakan kemusyrikan. Misalnya, seseorang beristighatsah kepada ruh rasulullah saw, atau beristighatsah kepada jin, atau malaikat.

Tetapi dalam masyarakat kita sekarang ini, istilah istighatsah berubah juga dengan membaca dzikir tertentu secara beramai-ramai lalu membaca do’a. Istighatsah tidak perlu beramai-ramai. Rasulullah saw melakukan istighatsah kubra, ketika perang badar, hanya ditemani oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Adapun sekarang, bahkan kadang-kadang masih kurang puas dengan do’a kaum muslimin saja, lalu mengundang peserta dari agama-agama lain untuk ikut serta di dalam berdo’a. Ini adalah penyimpangan dari pengertian istighatsah secara syar’i.

Kesimpulannya, kalau Istighatsah sesuai dengan syari’ah boleh, tetapi kalau menyimpang dari syari’ah dilarang dan haram dilakukan.
Allahu a’lam bish-shawab

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: