Skip to content

I’dad (Mempersiapkan Diri untuk berjihad)

Oktober 10, 2009
tags: ,

Soal:
Bagaimana caranya untuk bersiap-siap kalau kita ingin berjihad?
(Andi Miqdad Aviansyah, 7 H)


Jawab;
Jihad adalah kewajiban setiap muslim sepanjang zaman. Meskipun demikian, jihad ini bukanlah fardlu ’ain. Kewajiban berjihad ada pada kedudukan fardlu kifayah. Hanya dalam kondisi tertentu jihad menjadi fardlu ‘ain, yaitu ketika suatu negeri diserang oleh musuh, dan ketika khalifah sudah memobilisasi umum.

Jihad mustahil terlaksana tanpa ada persiapan terlebih dahulu. Dan ulama telah sepakat bahwa “Kalau ada suatu hal wajib yang tidak sempurna tanpa adanya suatu hal lain, maka hal lain tersebut juga wajib.” Oleh karena itu maka persiapan-persiapan untuk berjihad hukumnya sama seperti hukum jihad itu sendiri. Allah swt. berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka. Kalian tidak mengetahui mereka tetapi Allah mengetahui mereka. Dan apapun yang kalian infaqkan di jalan Allah, niscaya akan dipenuhi (balasannya) keada kalian, dan kalian tidak akan didhalimi” (Al-Anfal:60)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan sebuah perintah agar muslimin mengadakan persiapan-persiapan jihadiy, dalam bentuk apapun, semampu mereka! (bukan semau mereka). Rasulullah saw. juga bersabda setelah menyebutkan ayat ini:

أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

“Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar! Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar! Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar!” (HR. Muslim)

Perlu diketahui bahwa persiapan jihad itu ada dua macam, persiapan fisik dan persiapan non fisik.

Yang dimaksud dengan persiapan non-fisik adalah persiapan yang berupa semangat keimanan, akhlak yang baik, serta penguasaan ilmu syar’i, strategi perang dan teknologi secara umum. Persiapan ini dilakukan dengan belajar keras dan serius pada berbagai bidang. Khusus untuk ilmu syar’i, belajar bukan hanya sekedar menguasai teori, tetapi harus dilaksanakan sekuat tenaga.

Sedangkan persiapan fisik adalah kekuatan fisik, penguasaan dan ketrampilan memainkan alat perang. Tetapi untuk mempersiapkan diri dalam hal ini, umat Islam akan menghadapi kendala yang sangat sulit. Karena itu kembali kepada asal kewajiban, bahwa kewajiban seseorang sesuai dengan tanggungjawab dan kedudukannya. Semua itu harus dilakukan dengan sekuat tenaga. Kalau mampunya hanya berlari untuk menjaga stamina tubuh, ya itu yang harus dilakukan.
Allahu a’lam bish-Shawab

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: