Skip to content

Antara Maksiat dan Ilmu

Oktober 10, 2009

Soal:
Ustadz, benarkah kalau kita terlalu banyak melakukan maksiat maka kita akan cepat lupa dalam menghafal pelajaran
(Riezki Firmansyah, X-5 SMA

Jawab:
Kalau kita membaca nasihat-nasihat para ulama’, memang kita temukan agar kita menjauhi kemaksiatan dalam mencari ilmu. Mencari ilmu yang disertai tindakan maksiat akan menyebabkan sulit menghafal dan memahami ilmu. Sebab ilmu adalah cahaya Allah, yang tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Ibnu al-Mubarak di dalam kitab az-Zuhd meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud mengatakan

إِنِّي لَأَحْسِبُ الرَّجُلَ يَنْسَى الْعِلْمَ كَانَ يَعْلَمُهُ بِالْخَطِيْئَةِ يَعْمَلُهَا

Sesungguhnya aku mengira, seseorang akan melupakan ilmu yang telah dia ketahuinya karena kesalahan yang dilakukannya

Senada dengan Ibnu Mas’ud, di dalam sebuah sya’ir Imam asy-Syafi’i berkata;

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْـبَــرَنِي بِـأَنَّ الْـعِـلْـمَ نُـوْرٌ … وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَاصِي

Aku mengeluhkan buruknya hafalanku kepada Waki’
Beliau menganjurkanku agar meninggalkan maksiat
Dan memberitahukan bahwa ilmu adalah cahaya
Cahaya Allah tidak akan ditunjukkan kepada ahli maksiat

Tetapi sesungguhnya hal ini bukanlah satu-satunya faktor seseorang bisa lebih cepat menguasai ilmu. Jika kita membaca berbagai nasihat para ulama’ bagi pelajar, kita bisa simpulkan demikian. Di antaranya nasihat Ibnu al-Mubarak

لاَ يُنَالُ الْعِلْمُ إِلاَّ بِالْفَرَاغِ وَالْمَالِ وَالْحِفْظِ وَالْوَرَعِ .

Ilmu tidak akan diperoleh melainkan dengan kelonggaran (meluangkan waktu), harta, hifdz (menghafal) dan wara’ (menghindari kemaksiatan)

Ibnu Hibban di dalam kitab Raudlatul ‘Uqala’ mengatakan

إِنَّ أَجْوَدَ مَا يَسْتَعِيْنُ بِهِ الْمَرْءُ عَلَى الْحِفْظِ الطَّبْعِ الْجَيِّدُ مَعَ الْهِمَّةِ وَاجْتِنَابِ الْمَعَاصِي

Sesungguhnya cara terbaik untuk membantu seseorang agar memiliki hafalan yang mantap adalah tekad yang kuat dan menjauhi maksiat

Di dalam dua nasihat di atas disebutkan faktor kemaksiatan adalah salah satu dari sekian banyak faktor yang memberatkan seseorang untuk menghafal ilmu. Karena itulah kadang-kadang ada seorang yang banyak maksiat tetapi ia bisa menguasai ilmu yang dipelajarinya dengan baik. Bahkan perkembangan ilmu orang kafir kadang-kadang lebih maju dari pada umat islam.

Berkaitan dengan masalah ini, ada hal yang harus diingat, bahwa para ulama’ memandang ilmu bukan hanya sekedar teori. Ilmu belum dikatakan dihafal kalau baru sekedar diingat untuk menjawab soal di dalam ujian. Istilah hifdz (hafal) dalam istilah ulama’ adalah menghafal secara teori, dan menjaganya dalam amal, sehingga mereka menasihatkan

الْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah

Para ulama’ ini bukan hanya mengajarkan teori kepada murid-muridnya. Mereka mengajarkan ilmu sekaligus mengajarkan cara mengamalkannya, agar bisa mendapatkan sorga yang dijanjikan oleh Allah. Karena itulah, cara pandang kita terhadap hakekat mencari ilmu ini harus diluruskan. Mencari ilmu bukan sekedar mendapatkan nilai yang baik di dalam rapor. Bukan sekedar untuk mendapatkan titel, pekerjaan, uang, jabatan, ataupun gengsi. Mencari ilmu adalah untuk bisa beramal sesuai dengan tuntutan syari’at. Wasiat Rasulullah saw

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، لا يَتَعَلَّمُهُ إِلا لَيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya untuk mencari keridlaan Allah, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau sorga di hari kiamat kelak (HR al-Hakim dan Abu Ya’la dengan sanad hasan)

Sebagaimana telah diwasiatkan oleh rasulullah saw, Allah berfirman tentang orang yang berilmu dan tidak melaksanakan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (ash-Shaff:2-3)

Orang yang bermaksiat, mungkin saja menguasai teori ilmu, bisa menghafal al-Qur’an dan hadis, tetapi ia tidak akan bisa mengamalkannya secara kontinue. Karena itu, meskipun pengetahuan teorinya banyak, ilmunya tidak bermanfaat. Dan di akhirat kelak dia tidak akan merasakan nikmatnya sorga. Jangankan nikmatnya, baunya saja tidak bisa menciumnya.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: