Skip to content

Bersahabat Dengan Ustadz/h

Mei 31, 2009

Soal:
Ustadz, bagaimana caranya supaya saya (sebagai santri) bisa bersahabat dengan ustadz/ustadzah?


Jawab:
Bersahabat dengan ustadz atau ustadzah adalah sebuah akhlak terpuji. Dengan ini seseorang akan dapat mewujudkan tujuan thalabul ilmi. Yang perlu diketahui, bahwa tujuan mencari ilmu bukan semata-mata nilai yang tinggi. Tetapi meningkatnya pemahaman agama, semangat ibadah, dan terbentuknya akhlakul karimah.

Beberapa hal yang akan bisa mewujudkan persahabatan yang mesra antara seorang thalib dengan ustadznya adalah;

1- Tsiqah kepada Ustadz/ustadzah.

Ini adalah dasar pertama, memiliki kepercayaan kepada ustadz. Kepercayaan ini akan memandu seseorang untuk bisa melakukan hal-hal lain. Sebaliknya hilangnya kepercayaan kepada mereka akan membuat seseorang akan menauhinya. Karena itulah, pertama kali yang harus ditanamkan di dalam diri seorang thalib (santri) adalah kepercayaan penuh kepada ustadz/ah. Bahwa mereka adalah orang yang akan memandu dalam meniti jalan kehidupan yang baik dan benar.

2- Memahami kedudukan mereka

Agar seorang santri (thalib) bisa sempurna dalam memberikan kepercayaan kepada ustadz, ia perlu memahami kedudukan ustadz.
Ustadz menem[pati kedudukan orang yang berilmu. Selain itu berkedudukan sebagai orang yang mendidik dan mengajarkan ilmu kepada kita. Allah dan RasulNya saja menghormati orang berilmu, maka seharusnya kita pun menghormati mereka. Bahkan rasulullah saw menyatakan

العلماء ورثة الأنبياء

Orang-orang yang berilmu (syara’) itu adalah pewaris para nabi

3- Menghormati mereka

Harus disadari bahwa ustadz adalah sumber ilmu. Melalui ustadz ini pula Allah mengajarkan ilmu kepada seseorang (kita). Maka ia harus menghormatinya. Adapun bentuk penghormatan di antaranya adalah

– Berkata sopan kepada ustadz, seperti dengan suara tidak terlalu keras tetapi bisa didengar, tidak memotong pembicaraannya, memilih kata-kata yang menunjukkan penghormatan dan lain-lain

– Bertindak sopan di hadapan ustadz, dalam duduk, berdiri dan bertingkah laku

– Sopan pula kepada ustadz ketika tidak ada di hadapannya, di antaranya dengan tidak menirukan kebiasaanya, cara berbicaranya, atau berbagai sifat khasnya yang lain.

4- Menerima nasihat dan saran mereka (yang sesuai dengan Agama) dengan ikhlas

Sebab guru tentu menginginkan sesuatu yang baik bagi muridnya. Kebaikan yang diinginkan oleh guru bukanlah sesuatu yang bersifat material belaka. Bukan pula kebaikan yang hanya berupa kesenangan. Ustadz, menginginkan agar anak didiknya menjadi orang yang berguna bagi agamanya, selamat di dunia dan akhirat, dan tentu menjadi orang besar di dalam kehidupan dunia. Memang, kadang-kadang menerima nasehat ustadz ini berat, kalau tidak sesuai dengan keinginan murid. Kalau sudah disadari kedudukan dan tujuan ustadz memberikan nasihat, maka sesungguhnya akan mudah menerima nasihat secara ihklas.

5- Proaktif bertanya tentang problematika yang dihadapi

Salah satu di antara bentuk sikap tawadlu’ seorang murid di hadapan ustadznya adalah menanyalan berbagai solusi atas problematika hidupnya. Memang ustadz bukanlah konselor yang serba bisa, tetapi setidaknya mereka akan mencoba membantu sukuat tenaga. Kalaupun tidak bisa mengatasi sendiri, bisa jadi akan memberikan referensi ke mana kita harus mengadu, untuk menyelesaikan problem kehidupan kita.

Dengan lima hal ini, kalau kita laksanakan dengan baik, in Sya’Allah, akan mudah dekat dengan ustadz/ustadzah

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: