Skip to content

Onani Tidak Sampai keluar Sperma

April 6, 2009

Assalamu’alaikum warahmatyullahi wabarakatuh
Kalau onani tetapi tidak sampai kelar spermanya (klimaks) dosa apa tidak? Dan puasanya batal atau tidak?
(Jhonni)

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb

Dalam menjalani kehidupan ini, hendaklah kita jangan terjebak untuk melihat apakah perbuatan itu berdosa atau tidak. Sebab tujuan akhir dari kehidupan kita adalah mendapat ridlo dari Allah atau tidak. Maka lebih baik kita memandang, apakah perbuatan itu disukai Allah atau tidak, diridlai Allah atau tidak. Kalau pandangan kita hanya berdosa atau tidak, kita akan meninggalkan banyak amal kebaikan karena melakukan perbuatan yang tidak berdosa, dan akibatnya tidak banyak amal yang menyebabkan diridlai Allah kita lakukan. Contoh, ketika kita masuk masjid jangan berfikir meninggalkan shalat tahiyatul masjid itu berdosa atau tidak. Yang pasrti telah diketahui, tahiyyatul masjid akan mendatangkan pahala. Alangkah ruginya kalau kita meninggalkan shalat tersebut, karena di dalam shalat itu ada pahala yang besar.

Sikap seperti itulah yang harus dilakukan seseorang dalam semua aktifitasnya. Termasuk dalam hal ini sikapnya menghadapi persoalan onani.

Tetapi kalau kita meninjau dari segi berdosa atau tidak, seseorang melakukan onani, meskipun tidak sampai keluar sperma, itu sudah merupakan satu angkah menuju kemaksiatan, makanya tindakan itu tetap berdosa, meskipun dosanya tidak sama dengan dosanya ketika sampai keluar sperma.

Dalam kaidah ushul fiqh dinyatakan

النهي عن الشيء نهي عن وسائله

Larangan terjhadap sesuatu maka larangan pula terhadap sarana-sarananya

Rasulullah bersabda

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak penting (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Malik)

Jika hal ini dilakukan di siang hari waktu bulan ramadlan, secara dhahir puasanya tidak batal, tetapi pahala puasanya hilang. Sabda Rasulullah

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطشُ

Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Sebab pahalanya hilang, karena ia tidak bisa meninggalkan perbuatan yang berdosa dan tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Rasulullah saw

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa melakukan perbuatan atau kata-kata yang tidak bermanfaat, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya (HR al-Bukhari)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: