Skip to content

Kiat Beristiqamah

Maret 29, 2009

Soal:
Assalamu’alaikum wr. wb,
Yaa Ustadz, Saya mau nanya tentang cara beristiqamah. Saya ingin sekali beristiqamah dalam ibadah yang saya lakukan. Tetapi saya kadang-kadang terlupakan dan banyak gangguannya. Nah bagaimana cara beristiqamah yang baik? Ada dalilnya atau tidak? Tolong diberi contoh dalam menjelaskan…
Uut Tks


Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb
Keinginan ananda untuk beristiqamah adalah keinginan yang sangat baik, sebab istiqamah adalah salah satu kunci untuk mendapatkan kemenangan dalam mengarungi kehidupan dunia ini sehingga kelak berhak mendapatkan balasan yang baik di dalam sorga. Allah berfirman

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian ia istiqamah maka malaikat akan turun kepada mereka untuk mengatakan, ”Janganlah kalian mreasa khawatir dan jangan bersedih hati, dan bergembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan kepada kalian” (Fushshilat:30)

Dalil-dalil, baik dari ayat al-Qur’an maupun hadis, yang secara khusus menunjukkan cara beristiqamah tidak ada, tetapi kita bisa merangkai ayat-ayat dan hadis-hadis yang mendukung untuk terjaganya keistiqamahan kita. Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar bisa beristiqamah adalah

1- Muraqabah
Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan pengawasan Allah kepadanya. Allah berfirman

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)

Seorang yang sadar akan kekuasaan dan kepengawasan Allah tidak selayaknya ia berbuat maksiat. Setidaknya ia merasa malu kalau tidak mentaati Allah.

2- Mu’ahadah
Maksudnya adalah sikap komitmen dengan tekad dan janji yang telah dibuat oleh seseorang kepada diri sendiri di hadapan Allah untuk melakukan sesuatu amal kebaikan atau menjauhi suatu kemunkaran. Seseorang yang berjanji pada dirinya sendiri tentu dituntut untuk menepatinya. Sehingga janjinya ini akan menjaga seseorang untuk beristiqamah di jalan kebaikan.

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

3- Muhasabah
Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya. Muhasabah harus dilakukan pada tiga tempat, yaitu sebelum melakukan, ketika melakukan dan setelah melakukan suatu perbuatan. Sebelum melakukan perbuatan hendaklah menghitung apakah perbuatan itu baik secara syara’ atau tidak, mampu dia lakukan atau tidak, bermanfaat atau tidak. Kalau hasilnya adalah tidak baik, tidak sesuai dengan syari’at maka ia harus membatalkan rencananya.

Ketika melakukan pun harus selalu menghitung, apakah ia ikhlas atau tidak. Kalau ternyata tidak ikhlas ia harus meluruskannya, dan jika tidak benrmanfaat ia harus membatalkannya. Dan ketika selesai juga kembali meninjau amal yang telah dilakukannya, ada kekurangan atau tidak, salah atau tidak. Jika adanya adalah kebiakan maka ia harus bersyukur, tetapi jika berdampak yang kurang baik dia harus beristghfar. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr (59) : 18)

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Umar bin Khattab ra berkata,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah dirimu sebelum dihisab” (HR at-Tirmidzi)

4- Mujahadah
Mujahadah adalah usaha serius untuk mentaati Allah dan menjauhi kemaksiatan serta menjaga keistiqamahan. Termasuk di dalam mujahadah ini adalah usaha untuk menyingkirkan berbagai kendala yang menghadang dalam melakukan ketaatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (77) وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj : 77-78)

إِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ فَيَقُولُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (HR. al-Bukhari Muslim)

5- Mu’aqabah
Jika ternyata di dalam berbagai usaha ini gagal, dan secara tidak sadar atau terpaksa melakukan suatu kelalaian, maka hendaklah menghukum diri sendiri. Mu’aqabah ini dilandasi oleh sabda Rasulullah saw

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar, ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih)

Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah, dan mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa contoh di bawah ini.

1. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

2. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.

6- Yang terakhir, jangan lupa berdo’a. Sebab istiqamah bermula dari kemantapan hati, sedangkan hati itu ada di tangan Allah. Kadang-kadang manusia tidak sanggup mengendalikan hatinya sendiri, maka kepada Allah kita harus meminta agar hati kita diberikan kemantapan dan keistiqamahan. Di antara do’a yang harus selalu dibaca adalah;

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai dzat yang membolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu ( HR at-Tirmidzi)
Allahu a’lam bish-Shawab

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: