Skip to content

Hukum Rokok

Maret 16, 2009

Soal;
Assalamu’alaikum wr. wb
Ustadz, saya akan bertanya tentang haram. Apakah haram itu melihat-lihat umur atau kategori? Contohnya seperti Fatwa MUI tentang rokok, rokok haram bagi pelajar dan halal bagi orang dewasa, serta makruh bagi ulama’. Terima kasih ustadz…


Jawab;
Wa’alaikumussalam
Hukum-hukum di dalam Islam apabila tidak ada keterangan khusus maka berlaku secara umum, tidak memandang umur, ataupun jenis kelamin seseorang. Contoh Allah melarang memakan daging babi di dalam al-Qur’an, maka larangan ini berlaku untuk siapapun. Baik tua atau muda, lelaki atau perempuan, semua haram memakannya.

Adapun masalah rokok, adalah masalah yang tidak ada penjelasannya di dalam al-Qur’an maupun hadis. Karena itulah para ulama’ berijtihad tentang hukum merokok. Berdasarkan kepada dalil-dalil umum yang ada, para ulama’ berusaha mencari kesimpulan hukumnya. Di dalam berijtihad menentukan hukum yang tidak ada dalilnya di dalam al-Quran dan sunnah ini, digunakan kaidah ushul;

الْحُكْم يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا

Hukum itu tergantung kepada kepada ada atau tidak adanya illah (sebab)

Dengan prinsip itulah kemudian para ulama’ berijtihad untuk menraik sebuah kesimpulan hukum. Adapun dalil-dalil yang digunakan dalam menyimpulkan hukum merokok di antaranya adalah;

a. Larangan melakukan tindakan mubadzir

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (al-Isra’:26-27)

b. Larangan menjerumuskan diri dalam kehancuran;

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (al-baqarah:195)

c. Larangan melakukan tindakan yang membahayakan diri dan orang lain.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَضَى أَنْ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ.

Dari ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah saw memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal berbahaya dan membahayakan (orang lain) (HR Ibnu Majah)

Mengingat dalil-dalil yang menjadi sandaran illah (sebab) bersifat umum, dan adanya illah pun juga umum, maka seharusnya hukum haram itu berlaku secara umum pula. Allahu a’lam bish-shawab.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: