Skip to content

Hukum Musik

Maret 16, 2009
tags: , ,

Soal:
Assalamu’alaikum wr. wb
Apakah di dalam islam boleh memainkan musik? Mohon penjelasan beserta dalilnya!
(Wibowo S.P, kelas 8 MTs)


Jawab;
Wa’alaikum salam

Masalah musik adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama’. Sebagian mengharamkan, dan sebagian lagi menganggap mubah.
Ulama’ yang mengharamkan membawakan dalil al-Qur’an maupun hadis. Di antara dalil-dalil yang digunakan sebagai alasan keharamannya adalah

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

”Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Luqman : 6)

Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya Al-Hasan, Al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Dari Abu Malik Al-Asy’ari ra, ia berkata; Demi Allah ia tidak mendustaiku, ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik (al-ma`azif).” (HR al-Bukhari)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فِى هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ ». فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ « إِذَا ظَهَرَتِ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ »

Dari imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw bersabda, di dalam umat ini akan terjadi penenggelaman di bumi, perubahan wajah, dan pelemparan batu. Ada seorang lelaki muslim bertanya, Wahai rasulullah, kapan hal itu terjadi? Beliau menjawab, Apabila telah tampak wanita-wanita penyanyi, alat-alat musik, dan khamr diminum (HR at-Tirmidzi)

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَعَلَتْ أُمَّتِى خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً حَلَّ بِهَا الْبَلاَءُ . فَقِيلَ وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا كَانَ الْمَغْنَمُ دُوَلاً وَالأَمَانَةُ مَغْنَمًا وَالزَّكَاةُ مَغْرَمًا وَأَطَاعَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ وَعَقَّ أُمَّهُ وَبَرَّ صَدِيقَهُ وَجَفَا أَبَاهُ وَارْتَفَعَتِ الأَصْوَاتُ فِى الْمَسَاجِدِ وَكَانَ زَعِيمُ الْقَوْمِ أَرْذَلَهُمْ وَأُكْرِمَ الرَّجُلُ مَخَافَةَ شَرِّهِ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ وَلُبِسَ الْحَرِيرُ وَاتُّخِذَتِ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلَهَا فَلْيَرْتَقِبُوا عِنْدَ ذَلِكَ رِيحًا حَمْرَاءَ أَوْ خَسْفًا وَمَسْخًا »

Dari Ali bin Abi Thalib ra, berkata; Rasulullah saw bersabda : “Jika umatku telah melakukan lima belas perilaku, maka ia layak mendapatkan bala’ (bencana),” Beliau ditanya, “Apa saja kelima belas perilaku itu ya Rasulullah” Beliau menjawab, “Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu, amanat menjadi barang rampasan, zakat menjadi utang; seorang lelaki (suami) menurut pada istrinya dan mendurhakai ibunya; berbuat baik kepada teman namun kasar terhadap ayahnya sendiri; ditinggikannya suara-suara di masjid; yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka; seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya; diminumnya khamr; dipakainya kain sutera, mengambil para biduanita; dan orang-orang akhir dari umat ini telah melaknat orang-orang terdahulu. Maka kalau sudah demikian, tunggulah datangnya angin merah, penenggelaman bumi dan pengubahan bentuk.” (HR at-Tirmidzi,

Di dalam sanad hadits ini terdapat Al Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha’if karena hafalannya)

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ تَبِيعُوا الْقَيْنَاتِ وَلاَ تَشْتَرُوهُنَّ وَلاَ تُعَلِّمُوهُنَّ وَلاَ خَيْرَ فِى تِجَارَةٍ فِيهِنَّ وَثَمَنُهُنَّ حَرَامٌ فِى مِثْلِ هَذَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِى لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Dari Abu Umamah ra, dari Rasulullah saw, bersabda; ”janganlah kalian menjual al-Qoynat (biduanita), dan jangan pula membelinya, dan mengajarkannya, dan tidak ada kebaikan di dalam perniagaan qaynat (budak penyanyi), keuntungannya haram, Untuk hal seperti ini diturunkan ayat (Luqman:6) (HR at-Tirmidizi, dinyatakan hasan oleh al-Albani)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ جَهَنَّمَ قَالَ وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاءَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Dari Abdullah bin Amr ra, bahwa Rasulullah saw bersabda; barangsiapa yang mengatakan atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan hendaklah bersiap menempati tempat duduknya di neraka. Ia (Abdullah) berkata, dan aku mendengar rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya Allah menharamkan khamr, judi, kubah (sejenis alat musik), perasan gandum yang memabukkan dan segala sesuatu yang memabukkan adalah haram. (HR Ahmad)

Adapun kelompok yang membolehkan alat-alat musik mendukung pendapatnya dengan mendatangkan dalil al-Qur’an maupun hadis. Di antaranya adalah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)

Ayat ini difahami bahwa segala yang baik itu halal. Di antara tanda kebaikan sesuatu adalah bisa dinikmati oleh orang pada umumnya.

عَنْ نَافِعٍ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ مِزْمَارًا فَوَضَعَ أُصْبُعَيْهِ عَلَى أُذُنَيْهِ وَنَأَى عَنِ الطَّرِيقِ وَقَالَ لِى يَا نَافِعُ هَلْ تَسْمَعُ شَيْئًا قَالَ فَقُلْتُ لاَ. قَالَ فَرَفَعَ أُصْبُعَيْهِ مِنْ أُذُنَيْهِ وَقَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَسَمِعَ مِثْلَ هَذَا فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا

Dari Nafi’, ia berkata: “Abdullah Bin Umar ra pernah mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu ?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dari kedua telinganya dan berkata; Aku pernah bersama Nabi saw“Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW.” (HR Abu Dawud)

Hadis ini oleh pihak yang mengharamkan musik dianggap mendukung keharaman seruling. Buktinya adalah rasulullah dan Abdullah bin umar menutup telinga. Tetapi pihak yang membolehkan musik mengatakan, “Kalau seruling itu haram, maka Rasulullah tak akan mengizinkan Ibnu Umar untuk mendengarkannya. Demikian juga Ibnu Umar tidak akan membiarkan Nafi’ mendengarkannya”.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِى الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Dari Aisyah ra. dia berkata; Rasulullah saw bersabda; umumkanlah pernikahan ini dan laksanakanlah (pernikahan ini) di masjid, dan pukullah rebana (HR at-Tirmidzi)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا زَفَّتْ امْرَأَةً إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ فَإِنَّ الْأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمْ اللَّهْوُ

Dari Aisyah ra. dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda; “Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” (HR al-Bukhari)

Oleh kelompok yang mengharamkan musik, dalil-dalil yang dikemukakan oleh kelompok yang menghalalkan musik dianggap sebagai pengecualian. Maksudnya, pada prinsipnya musik itu haram karena berbagai dalil di atas, tetapi untuk rebana diizinkan. Dengan demikian, yang mengharamkan alat musik ini mengecualikan rebana.
Adapun pihak yang menganggap musik itu mubah menganggap dalil-dalil tersebut tidak pasti (qath’i) dalalah (yang dimaksudkan)nya. Beberapa alat musik yang disebut di dalam hadis di atas seperti kubah, ma’azif ataupun mizmar dianggap sebagai contoh alat musik, bukan dzatnya. Sementara di dalam hadis lain disebutkan alat musik lain yang diizinkan. Ketika ada dalil yang bertentangan, seharusnya kita mencari jalan untuk mengompromikan hadis-hadis tersebut, bukan mentarjihnya. Dalam mengompromikan di antara hadis musik yang bertentangan itu, bisa difahami bahwa hadis yang melarang musik adalah dalil umum. Sementara hadis-hadis yang membolehkan adalah dalil khusus. Maka hadis-hadis ini tidak bisa difahami sebagai sebuah keharaman, melainkan kebolehan bersyarat seperti di antaranya syarat waktu, ketika hari raya, pernikahan atau yang lainnya.

Hadis-hadis tersebut difahami demikian sebab musik bukan persoalan ibadah, melainkan persoalan dunia. Rasulullah saw bersabda;

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian (HR Muslim)

Berdasarkan hadis di atas maka diberlakukan qaidah ushul

الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ .

Pada dasarnya segala sesuatu (kedunian) itu boleh.

Karena itulah keharaman sesuatu harus dikatikan dengan sebab atau alasannya, berdasarkan kaidah ushul fiqh

الْحُكْمَ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا

Hukum itu tergantung kepada ada atau tidak adanya sebab

Dengan demikian, bisa difahami bahwa musik itu dibolehkan dengan adanya ketentuan-ketentuan khusus. Adapun ketentuan-ketentuan itu adalah;

1- Dalam menyanyikan tidak disertai dengan hal-hal yang jelas keharamannya, seperti diikuti dengan meminum minuman keras, pergaulan campur aduk antara lelaki dan perempuan, dan lain-lain.

2- Diizinkannya menyanyikan khusus untuk hari-hari tertentu, seperti ketika hari raya dan pernikahan.

3- Tidak menjadi kebiasaan untuk bermain dan mendengarkan musik

4- Tidak mengandung kata-kata yang berkonotasi dan membawa kepada kemaksiatan, seperti kata-kata porno, desahan-desahan yang erotis, memuja pacaran, menyanjung berhala atau kemaksiatan lainnya.

5- Tidak melalaikan dari ibadah dan menunaikan kewajiban.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: