Skip to content

Menghajikan Orang Yang Meninggal

Maret 9, 2009

Soal:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Seandainya orang tua kita meninggal sebelum naik haji, bagaimana caranya agar kita bisa menghajikan orang tua, syaratnya apa saja ustadz?
(Faisal Ridho Sakti, 7 Aksel)


Jawab
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Mewakilkan haji adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama’. Madzhab Maliki menolak adanya perwakilan dalam haji. Dan sebagian ulama’ membolehkan adanya perwakilan dalam menunaikan ibadah haji.

Ulama’ yang membolehkan pelaksanaan haji diwakilkan kepada orang lain dengan syarat-syarat tertentu, mendasarkan alasannya kepada hadis-hadis berikut;

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, Fadl bin al-Abbas membonceng nabi saw, lalu datanglah seorang wanita dari Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Maka al-Fadl melihat wanita itu dan wanita itupun melihatnya, sehingga Rasulullah saw memalingkan muka al-Fadl ke arah lain. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah kepada hambaNya untuk menunaikan haji telah dicapai oleh ayahku sudah tua sehingga tidak sanggup untuk menempuh beatnya perjalanan, apakah aku bolehmenghajikannya? Beliau menjawab, “Ya”. Dan hal itu terjadi pada waktu ají wada’. (HR Muslim)

عَنِ بُرَيْدَةَ قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّى بِجَارِيَةٍ فَمَاتَتْ أُمِّى وَبَقِيَتِ الْجَارِيَةُ. فَقَالَ قَدْ وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَجَعَتْ إِلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ . قَالَتْ فَإِنَّهُ كَانَ عَلَى أُمِّى صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ . قَالَتْ فَإِنَّ أُمِّى لَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ حُجِّى عَنْ أُمِّكِ

Dari Buraidah, ada seorang wanita datang kepada nabi saw lalu bertanya, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, lalu ibuku meninggal dan budak itu masih, maka nabi saw menjawab, “kau telah mendapatkan pahalamu, dan budak itu kembali kepadamu sebagai warisan. Wanita itu bertanya lagi, “sesungguhnya ibuku memiliki tanggungan puasa sebulan penuh, bolehkah aku berpuasa atas namanya?” beliau menjawab, “Ya”. Wanita itu bertanya lagi, “sesungguhnya ibuku belum berhaji, apakah boleh aku menghajikannya?” beliau menjawab, “berhajilah untuk ibumu” (HR Ahmad)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang lepada Nabi saw dan berkata, sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk melaksankan hají, tetapi sebelum berhaji beliau meninggal dunia, apakah aku boleh menghajikannya? Beliau menjawab, “Ya, berhajilah untuknya. Apakah pendapatmu jika ibumu punya hutang, apakah kau boleh membayarkan hutangnya? Bayarkanlah hutangnya kepada Allah, karena (hutang kepada) Allah lebih berhak untuk dipenuhi (HR al-Bukhari)

Di dalam riwayat lain, dikatakan

إِنَّ أُخْتِي قَدْ نَذَرَتْ

“Sesungguhnya saudariku telah bernadzar” (HR al-Bukhari)

Sedangkan ulama’ yang melarang pelaksanaan haji dengan diwakilkan berargumen dengan dua alasan;

Alasan pertama; Ibadah yang fardlu ’ain tidak boleh diwakilkan orang lain. Amal apa saja yang dierjakan oleh orang hidp tidak akan sampai kepada mayat. Firman Allah

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (an-Najm:38-39)

. Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (al-Baqarah:123)

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, (al-Isra’:7)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. (Yasin:54)

Alasan kedua, hadis yang menerangkan bolehnya haji bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an, meskipun derajat sanad hadis tersebut hasan tetapi jika bertentangan dengan al-Qur’an maka yang dipakai adalah al-Qur’an.

Sementara yang membolehkan perwakilan haji menganggap bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu menjelaskan kaidah umum, sedangkan hadis menjelaskan persoalan khusus. Melihat adanya dalil ’am yang ditakhsish itulah mereka hanya membolehkan adanya perwakilan haji apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Adapun syarat-syarat itu adalah;

1- adanya udzur yang tetap dan tidak bisa diharapkan hilangnya udzur tersebut, seperti orang yang usianya sangat tua atau sakit yang tak diharapkan untuk sembuh.

2- Biaya yang digunakan untuk berhaji disediakan oleh orang yang diwakili (bernadzar).

3- Ada nadzar atau wasiat untuk melakukan haji.

4- Yang menghajikan adalah orang yang sudah pernah berhaji

5- Yang menghajikan adalah anak atau saudara kandung.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: