Skip to content

Mencari Kesyahidan

Maret 8, 2009

Soal;
Assalamu’alaikum wr. wb
Ya Ustadz, kalau orang niat berjihad/perang dengan cara meledakkan diri (membom bunuh diri) apakah termasuk syahid atau mati bunuh diri. Tolong dijelaskan, terima kasih
(Soffi Syaifuddin, TKS D)


Jawab
Wa’alaikumussalam wr. wb.

1- Yang pertama harus difahami adalah arti jihad. Jihad bukan sekedar perang. Para ulama’ menjelaskan bahwa jihad itu artinya memerangi orang kafir. Sa’id bin Wahf al-Qahthani di dalam kitab al-Jihad fi sabilillah, menjelaskan arti jihad

بذل الجهد من المسلمين في قتال الكفار، والبغاة، والمرتدين ونحوهم

Mengerahkan kesungguhan dari kaum muslimin dalam memerangi orang kafir, pemberontak, kaum murtad dan lain-lain.

Syaikh Utsaimin, ketika menjelaskan ayat 218 surat al-Baqarah, mengatakan

قتال الكفار لتكون كلمة الله هي العليا

Memerangi kaum kafir untuk menjadikan kalimat Allah itu yang paling tinggi.

Ash-Shan’ani di dalam kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram mendefinisikan jihad;

بذل الجهد في قتال الكفار أو البغاة

Mencurahkan kesungguhan dalam emerangi orang kafir atau pemberontak.

Yang harus ditegaskan, di sini bahwa jihad itu bukan sekedar perang, tetapi perang untuk mengakkan kalimah Allah. Jika bukan untuk menegakkan kalimah Allah, jihadnya bukan fi sabilillah, sebagaimana sabda nabi saw,

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Abu Musa ra, ia berkata, ada seorang lelaki datang kepada nabi saw lalu ia bertanya, seorang lelaki yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan, seorang berperang untuk dikenal, seorang berperang untuk mendapatkan kedudukan, manakah di antara mereka yang fi sabilillah. Rasul menjawab, Siapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah yang tertinggi maka itulah yang fi sabilillah (HR al-Bukhari dan Muslim)

2- Adapun kasus pengeboman musuh dengan meledakkan bom yang mengakibatkan dirinya ikut terbunuh di tengah-tengah musuh karena bomnya itu, itu bukan bom bunuh diri. Syaikh Utsaimin ketika ditanya kasus seperti itu beliau menjawab, ”Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad untuk Allah”

Istilah bom bunuh diri adalah istilah yang dituduhkan oleh musuh umat islam. Sebab mereka tidak mengenal syahid. Yang mereka lihat adalah membawa bom lalu membunuh dan terbunuh. Dengan demikian mereka sebut bom bunuh diri (suicide).

Tindakan menyerang musuh dengan membawa bom dan meledakkan bom di tengah-tengah musuh meskipun dengan mengorbankan diri seperti itu disebut dengan operasi syahid (istisyhad). Operasi syahid seperti ini memiliki dasar-dasar yang kuat di dalam ajaran Islam. Sehingga operasi syahid ini memang benar-benar termasuk jihad fi sabilillah. Bahkan operasi ini termasuk metode yang paling berhasil dalam Jihad Fie Sabilillah melawan musuh-musuh Islam, karena dengan cara seperti ini terjadilah kerugian dan kerusakan pada musuh, baik berupa terbunuhnya orang-orang kafir atau terluka, sekaligus menimbulkan kengerian dan ketakutan pada mereka. Juga, dalam operasi istisyhad ini nyata, terlihatlah keberanian dan kekuatan hati kaum Muslimin dalam menghadapi kaum kafir, dan merontokkan hati musuh-musuh Islam, sekaligus menghinakan mereka dan mengakibatkan semakin lemahnya jiwa-jiwa mereka

Tentang kesesuaiannya operasi ini dengan syari’at bisa dibuktikan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta pendapat para ulama’ terkemuka di masa lalu maupun masa kini.

Pertama : Dalil-dalil Qur’an

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah : 207)

Dalam menafsirkan ayat ini, Al-Qurthubi membawakan pendapat Khuwaiz bin Mindad, ia berkata; Ada seseorang yang menghadapi seratus atau sejumlah tentara musuh, atau pemberontak, atau khawarij. Dalam hal ini ada dua kemungkinan, jika ia yakin atau setidaknya memperkirakan akan bisa membunuh orang yang diserangnya dan dia selamat maka itu adalah baik. Jika ia akan terbunuh tetapi telah berhasil membunuh atau membuat kerusakan di pihak mereka dan memberikan dampak positif bagi kaum muslimin maka hal itu boleh (Tafsir Al-Qurthubi II/361)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” ( At-Taubah 111 )

Kedua: Dalil-dalil dari As-Sunnah:

a- Hadits tentang Ashabul Uhdud, di sana dikisahkan ada seorang pemuda yang mengajarkan tauhid. Lalu ia ditangkap oleh sang raja dan dijatuhi hukuman mati. Berkali-kali dicoba melaksanakan eksekusi tetapi selalu gagal. Akhirnya sang pemuda mengatakan kepada raja

قَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِى حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ فَإِنْ أَنْتَ فَعَلْتَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَتَلْتَنِى وَإِلاَّ فَإِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ قَتْلَى. قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِى صَعِيدٍ ثُمَّ تَصْلُبُنِى عَلَى جِذْعٍ فَتَأْخُذُ سَهْماً مِنْ كِنَانَتِى ثُمَّ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلاَمِ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِى. فَفَعَلَ وَوَضَعَ السَّهْمَ فِى كَبِدِ قَوْسِهِ ثُمَّ رَمَى فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلاَمِ. فَوَضَعَ السَّهْمَ فِى صُدْغِهِ فَوَضَعَ الْغُلاَمُ يَدَهُ عَلَى مَوْضِعِ السَّهْمِ وَمَاتَ . فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ.

Pemuda itu berkata kepada sang raja, ”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku, sehingga kau lakukan apa yang aku perintahkan. Jika kau lakukan apa yang aku perintahkan maka kau akan bisa membunuhku, jika tidak kau tak akan bisa membunuhku”. Raja itu bertanya, ”Apa perintahmu itu?” Pemuda itu mejawab, ”Kau kumpulkan rakyat di tanah lapang, kemudian keu menyalib aku di atas , lalu kau mengambil anak panah dari …. dan ucapkanlah bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah tuhan si pemuda ini”. Jika kau lakukan ini maka kau akan bisa membunuhku” Maka sang raja pun mengikuti perintah pemuda, ia meletakkan anak panah di tali busurnya kemudian melepaskannya seraya mengucapkan bismillahi rabbil ghulam (dengan suara keras). Anak panah itu mengenai leher pemuda, lalu pemudia itu meletakkan tangannya pada bagian yang terkena anak panah dan ia mati. Rakyat pun berteriak, ”Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu (HR Ahmad)

Tindakan pemuda itu memberitahukan kepada raja bagaimana cara membunuh dirinya sendiri dianggap sama dengan bunuh diri. Tetapi kematian pemuda di tangan sang raja itu adalah kematian syahid di jalan Allah. Maka operasi seperti ini merupakan salah satu jenis Jihad, dan menghasilkan manfaat yang besar dan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, ketika penduduk negeri itu masuk kepada dien(agama) Islam, yaitu ketika mereka berkata : “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan) nya pemuda ini”.

Petunjuk (dalil) yang dapat di ambil dari hadits ini adalah bahwa Pemuda (Ghulam) tadi merupakan seorang Mujahid yang mengorbankan dirinya dan rela kehilangan nyawa dirinya demi tujuan kemaslahatan kaum Muslimin. Pemuda tadi telah mengajarkan mereka bagaimana cara membunuh dirinya, bahkan mereka sama sekali tidak akan mampu membunuh dirinya kecuali dengan cara yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut, padahal cara yang ditunjukkan itu merupakan sebab kematian dirinya, akan tetapi dalam konteks Jihad hal ini diperbolehkan.

Operasi sedemikian ini diterapkan oleh Mujahidin dalam Istisyhad (operasi memburu kesyahidan), kedua-duanya memiliki inti masalah yang sama, yaitu mengorbankan nyawa diri demi kemaslahatan jihad dan umat Islam.

b. Kisah Anas bin an-Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, ia mengatakan:

إِنِّي أَجِدُ رِيحَهَا مِنْ دُونِ أُحُدٍ

“Aku sudah mencium bau syurga di bawah gunung Uhud”

kemudian ia menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. Sa’d bin Mu’adz mengatakan, bahwa pada dirinya terdapat 87 luka-luka, baik sabetan pedang, lemparan tombak atau pun panah (HR al-Bukhari).

c. Demikian juga kisa Umair bin al-Hummam al-Anshari di dalam perang Badar. Setelah ia mendengar bahwa sorga itu luasnya seluas bumi dan langit, lalu ketika perang akan segera dimulai, sedangkan ia masih makan beberapa korma, tiba-tiba ia bergumam, ”Kalau senadainya aku masih

b. Aksi yang pernah dilakukan oleh Bara bin Malik dalam perang Yamamah. Ketika itu ia diusung di atas tameng, lalu dilemparkan menggunakan manjaniq (ketapel raksasa) melewati pagar ke dalam benteng musuh, diapun berperang seorang diri di dalam benteng. Meskipun ia teluka lebih dari 80 luka di tubuhnya, ia berhasil membuka pintu Benteng. Dalam kejadian itu tidak seorangpun sahabat r.a mengingkari aksinya. Kisah ini bisa kita baca di dalam Sunan Al-Baihaqi, dalam kitab As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli Raja’a Ihdal-Husnayain, tafsir Al-Qurthubi, Usudul Ghaabah, dan juga Tarikh Thabari.

c. Apa yang dilakukan oleh Hisyam bin Amar Al-Anshari, ketika dia meneroboskan dirinya di antara dua pasukan, seorang diri ia menerjang musuh dengan jumlah musuh yang besar, waktu itu sebagian kaum Muslimin berkata: Ia menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan, Umar bin Khaththab r.a membantah klaim sebagian kaum Muslimin tersebut, begitu juga Abu Hurairah r.a, lalu keduanya membaca ayat: “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (Al-Baqarah 207 )

d. Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan menukil tentang seorang lelaki yang mendengar sebuah hadits dari Abu Musa :”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh.

Dengan berbagai argumen di atas, menyerang musuh yang mengakibatkan dirinya meninggal termasuk ke dalam jihad, dan insya Allah kematiannya termasuk syahid. Allahu a’lam bish-shawab.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: