Skip to content

Menghormati Ustadz

Maret 2, 2009

Soal:
Assalamu’alaikum wr wb
Bagaimana tanggapan Ustadz tentang santri di Assalam yang kurang menghargai/menghormati guru-guru, dan bahkan ada beberapa orang santri yang meremehkan?

Jawab;
Wa’alaikumussalam wr wb

Peran ustadz dalam suatu proses belajar mengajar adalah peran sentral, yang tak tergantikan. Ustadz adalah sosok yang bisa menjadi motivator, inspirator, dan teladan. Kalaupun seorang murid dalam mempelajari suatu ilmu bisa melakukan otodidak, ia akan lebih cepat menguasainya jika didampingi oleh seorang ustadz. Ustadz pula lah orang yang membantu santri dalam memahami kitab dan menghindarkannya dari kekeliruan dalam memahami kitab. Maka sudah selayaknya jika seorang santri menghormati ustadz, yang menjadi perantara baginya untuk menguasai ilmu.

Di dalam kitab Hilyatu Thalibil-’Ilmi dikatakan bahwa dengan menghormati seorang ustadz, berarti, ”Tanda kesuksesan, kemenangan, keberhasilan dan mendapatkan taufiq” Demikian pula disebutkan di dalam syair-syair disebutkan bahwa kunci keberhasilan mendapatkan ilmu adalah dengan menghormati ustadz;

أخي لن تـنال العـــلم إلا بســــــتّة ….. سأنبيـــــك عن تفصيلها ببيــــان
ذكاءٌ وحرصٌ واجتهاد ودرهم ……. وإرشادُ أستاذ وطولُ زمــــــــــانٍ

Saudaraku, Kau tak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam hal;
Akan aku jelaskan keenam itu dengan sejelas-jelasnya;
Kecerdasan, kemauan, kesungguhan dan biaya
Petunjuk ustadz (guru) dan waktu yang panjang

Di dalam syair yang lain dikatakan

إنّ الْـمـعلــم والطبـيـــب كلاهـما … لا يـنـصحان إذا هـما لــم يـكرمـا
فاصبر لدائك إن جفوت طبيبها … واصبر لجهلك إن جفوت معلّماً

Sesungguhnya ustadz dan dokter
Keduanya tak akan memberi nasihat jika tak dihormati
Maka Sabarlah dengan penyakitmu, kalau kau kurangajar kepada dokter
Dan sabarlah dengan kebodohanmu, jika kau kurangajar kepada ustadz

Santri yang tidak menghormati ustadz atau guru termasuk santri yang kurang beradab. Bagaimana pun seorang guru adalah orang yang telah berjasa memberikan ilmu kepada kita. Sangat tidak pantas kalau seseorang yang telah berjasa menuntun menguasai suatu ilmu disikapi secara tidak hormat.

Allah saja, memberikan penghormatan kepada orang yang berilmu, sebagaimana kita baca di dalam al-Qur’an

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al-Mujadalah:11)

Malaikat pun menghormati orang yang berilmu, sehingga sujud kepada Adam, karena Adam berilmu.

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah:31-33)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ) رواه أبو داود

Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu Allah menuntunnya ke salah satu jalan di antara jalan (menuju) sorga. Dan sesungguhnya Malaikat meletakkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ilmu, dan bahwa orang yang berilmu itu akan dimohonkan ampunan oleh siapa saja yang ada di dagit dan di bumi, bahkan hingga ikan hiu yang ada di dalam lautan. Dan sesungguhnya keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Dan bahwasannya ulama’ adalah pewaris para nabi, mereka tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu) berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna (HR Abu Dawud)

Demikian tingginya kedudukan orang yang berilmu di sisi Allah, lalu mengapa seorang tidak mau menghormati orang yang berilmu? Jika seorang santri tidak menghormati ustadznya, menunjukkan ia adalah seorang yang tidak beradab. Allahu a’lam

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: