Skip to content

Adakah Bid’ah Hasanah?

Februari 26, 2009

Soal:
Assalamu’alaikum wr. wb.

1- Saya pernah membaca buku, “Mana Dalilnya” yang isinya bahwa bid’ah itu ada dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Apakah itu benar? Mohon dijelaskan dengan menggunakan dalil!

2- Saya juga pernah berbincang-bincang dengan teman saya yang tahu masalah bid’ah. Katanya di dalam kitab “Mantiq” kalimat ( كل ) di dalam hadis ( كل بدعة ضلالة ) itu artinya ada sebagian dan ada seluruh, apa itu benar???

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr wb

1- Persoalan bid’ah memang mejadi polemik yang sangat panjang di antara umat islam. Kalau kita mencermati pokok persoalannya, sesungguhnya akar masalahnya adalah terdapat ketidak samaan sisi pandang di antara umat Islam, yang mengakibatkan berbeda-beda dalam mendefinisikannya dan mengklasifikasikannya. Satu kaum melihat definisi bid’ah hanya dari aspek bahasa, dan satu kaum lagi melihat dari segi istilah.

Secara bahasa bid’ah berasal dari kata ba-da-‘a, artinya adalah membuat sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya.
Allah adalah Badi’, sebagaimana firmanNya;

{بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ} [البقرة: 117]

Pencipta langit dan bumi

Dikatakan badi’ karena Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya.

Berdasarkan pengertian bid’ah secara kebahasaan ini para ulama’ berbeda pendapat dalam membaginya.

Pendapat pertama; megatakan bid’ah dibagi menjadi dua, yaitu bid’ah duniawi dan bid’ah keagamaan. Bid’ah dalam masalah dunia disepakati kebolehannya, seperti membuat pesawat terbang, HP, dan lain-lainnya. Sedangkan bid’ah dalam urusan agama ini adalah bid’ah yang disepakati tercelanya oleh para ulama’.

Pendapat kedua; membagi bid’ah juga menjadi dua, yaitu bid’ah madzmumah dan bid’ah mahmudah. Pendapat ini dipelopori oleh Imam asy-Syafi’i. Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari menyebutkan bahwa Imam asy-Syafi’i mengatakan;

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم

Bid’ah itu ada dua macam; yakni bid’ah mahmudah dan madzmumah. Apabila sesuai dengan sunnah maka ia (bid’ah) mahmudah. Tetapi kalau bertentangan dengan sunnah maka bid’ah itu madzmumah

Pendapat ketiga, membagi bid’ah menjadi lima bagian; yaitu bid’ah wajib; seperti menjaga ilmu dan merumuskan penyusunan ilmu nahwu, bid’ah sunnah seperti membangun sekolah, bid’ah mubah seperti model pakaian, bid’ah makruh, dan bid’ah haram. Di antara yang berpendapat demikian adalah as-Suyuthi dan ash-Shon’ani.

Dari ketiga pembagian bid’ah, pembagian yang rajih (paling kuat) adalah pendapat pertama. Pendapat yang pertama paling kuat karena didasarkan kepada dalil-dalil berikut;

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’d, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR Muslim)

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jauhilah oleh kalian semua dari mengada-adakan hal-hal yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR Abu Dawud)

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”. (HR al-Bukhari-Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“ Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”. (HR Muslim)

Dua hadis pertama di atas menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Islam adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Karena itu segala bentuk bid’ah dalam agama hukumnya adalah haram.

Demikian pula dua hadis terakhir lebih menegaskan lagi, bahwa aspek bid’ahnya terletak dalam urusan keagamaan. Kata amruna atau fi amrina menunjukkan bahwa larangan membuat atau mengkreasikan sesuatu ada dalam urusan Rasul, yaitu urusan agama.

Adapun pendapat kedua dan ketiga, bertentangan dengan dhahir keempat hadis di atas. Misalnya as-Suyuthi mengatakan ada bid’ah wajib, atau imam asy-Syafi’i mengatakan ada bid’ah mahmudah, tetapi di dalam hadis dikatakan kullu bid’atin dlalalah. Atau ‘amalan di hadith terakhir berbentuk nakirah, sehingga berfungsi menunjukkan sesuatu secara global.

Pembagian bid’ah menjadi dua seperti yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i sulit difahami, jika difahami dengan pemahaman syar’i. Sebab kesulitannya adalah karena imam asy-Syafi’i membagi bid’ah berdasarkan kepada definisi lughawi, bukan definisi syar’i. Tetapi kemudian di dalam menjelaskan masing-masing bagian imam asy-Syafi’i seolah-olah mencari legalitas syara’, sehingga membingungkan. Letak kesulitannya adalah dalam memahami bid’ah mahmudah, yang didefinisikan dengan bid’ah yang sesuai dengan sunnah. Sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya, bahwa bid’ah adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Jika ada kesesuaian dengan syari’ah, maka berarti bukan membuat sesuatu yang tanpa contoh, sehingga tidak layak untuk disebut bid’ah.

Demikian juga kalau bid’ah dibagi menjadi lima macam. Salah satunya adalah bid’ah wajib, seperti membukukan al-Qur’an, dll. Meskipun dalam bentuk yang berbeda, isyarat untuk diijinkannya mengkodifikasikan al-Qur’an telah ada sejak masa nabi hidup. Di antara petunjuk itu adalah perintah Rasulullah saw untuk menuliskan ayat-ayat. Atau diaturnya shalat tarawih, itupun juga sudah ada petunjuknya sejak masa Rasulullah saw. Kemudian dalam masalah pembukuan ilmu-ilmu yang lain, seperti pembukuan masalah-masalah fiqh, maka sesunguhnya persoalan itu bukan persoalan agama. Tidak pernah ada orang menilai menuls buku fiqh merupakan bagian dari tindakan mendekatkan diri kepada Allah, atau wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka tidak tepat jika menganggap tindakan semacam itu sebagai bid’ah.

Dari sini, pembagian yang paling sistematis dan paling sesuai dengan petunjuk nabi saw adalah pembagian bid’ah menjadi bid’ah duniawi dan bid’ah diniyyah. Bid’ah duniawi hukumnya mubah, karena memang pada dasarnya segala urusan dunia itu mubah, selama tidak ada dalil yang mendegahna. Sedangkan bid’ah diniyyah haram, karena asalnya urusan agama itu bersifat tawqifi, atau ketetapan dari pembuat syari’at.

2- Tentang kata ( كل ) di dalam hadis ( كل بدعة ضلالة ), Imam an-Nawawi di dalam syarh shahih Muslim juga menjelaskan bahwa kata ( كل ) tersebut berarti pada umumnya.

Memang bisa jadi, dalam tinjauan kebahasaan, kata ( كل ) di artikan sebagian besar, kalau ada qarinah, baik qarinah langsung maupun tidak langsung. Contoh kata ( كل ) yang berarti sebagian adalah di dalam sabda Nabi saw

كُلّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّة إِلَّا مَنْ أَبَى

Semua ummatku akan masu sorga, kecuali orang yang menolak…

Adanya kata ( إِلَّا ) yang berfungsi mengecualikan, menjadikan kata ( كل ) tidak bermakna semuanya. Sehingga hadis tersebut difahami bahwa tidak semua ummat nabi Muhammad saw akan masuk sorga, karena ada yang menolak.

Tetapi membawakan ungkapan umar bin Khaththab ( نعمت البدعة هذه ) [sebaik-baik bid’ah adalah ini] untuk mengecualikan kata ( كل ) di dalam hadis ( كل بدعة ضلالة ) adalah tidak tepat. Sebab kata Umar tersebut adalah bid’ah dalam arti lughawi, sedangkan sabda Rasulullah saw bid’ah dalam arti syara’. Al-‘Adhimu Abadi, di dalam kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud mengatakan, “Adapun apa yang terjadi di dalam kata-kata ulama’ salaf, yang menganggap baik bid’ah adalah bid’ah dalam makna lughawi, bukan dalam makna syar’i. Di antaranya (bid’ah yang dianggap baik itu) adalah kata-kata Umar, sebaik-baik bid’ah adalah ini. Di dalam riwayat lain dikatakan, andaikata ini sebuah bid’ah, maka sebaik-baik bid’ah adalah ini”

Bukti lain bahwa tindakan Umar bukan benar-benar bid’ah karena shalat Tarawih secara berjama’ah sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah saw.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah saw tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau saw bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari keterangan tersebut, kata ( كل ) secara kebahasaan bisa dimaknai dengan sebagian kalau ada petunjuk (qarinah) yang menunjukkannya. Tetapi memaknai kata ( كل ) di dalam hadis ( كل بدعة ضلالة ) dengan arti sebagian adalah tidak tepat, sebab tidak ada qarinahnya. Maka kata ( كل ) di dalam hadis ( كل بدعة ضلالة )harus difahami sebagai keseluruhan. Sehingga artinya, semua bid’ah adalah sesat Allahu a’lam bish-shawab

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: