Skip to content

Standard Kyai

Februari 21, 2009

Soal:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Mengapa Ustadz mau menjadi kyai? Standar kyai kan menguasai ilmu agama dengan kaaffah, apakah ustadz sudah menguasainya?

Jawab;

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Kyai adalah sebuah sebutan sosial, yang muncul dari masyarakat. Kyai itu bukanlah sebuah status dalam keagamaan yang ditentukan oleh syari’at. Kyai juga bukan status dalam sebuah lembaga yang bisa diangkat dengan SK. Kyai juga bukan titel yang bisa diklaim oleh seseorang karena jenjang pendidikan. Munculnya istilah kyai, karena masyarakat menyebutnya dengan kyai.

Biasanya suatu masyarakat menyebut seseorang sebagai kyai karena kapasitas dan peran seseorang. Maksudnya, seseorang yang memiliki kapasitas ilmu agama di atas rata-rata masyarakat dan berperan mengajarkan ilmunya di masyarakat. Sebagai sesuatu yang dimunculkan oleh masyarakat, maka standarnya pun berbeda-beda sesuai dengan penilaian masyarakat.

Zamakhsyari Dhofier, di dalam buku Tradisi pesantren menyabutkan bahwa kyai adalah istilah khas jawa. Istilah ini digunakan untuk menyebut tiga hal yang berbeda, yaitu;

a. Gelar untuk menyebut sesuatu yang dianggap keramat, seperti kyai Slamet di Kraton Kasunanan Surakarta

b. Gelar untuk menyebut orang-orang yang sudah tua.

c. Gelar untuk menyebut ahli-ahli agama Islam yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat dan santrinya di pesantren.

Istilah kyai untuk menyebut ulama’ ini merupakan istilah khas masyarakat jawa. Karena masyarakat jawa ini cukup dominan di pentas nasional Indonesia, maka banyak pula masyarakat non jawa juga mendapat gelas kyai. Istilah kyai setara dengan ajengan di Jawa Barat, Tuan Guru di NTB, Mulla di Afghanistan, atau syaikh di tanah Arab.

Kalau ananda membuat sebuah standar kyai dengan pemahaman islam secara kaffah, maksud penguasaan ilmu kaaffah itu sendiri juga sulit dicari standarnya. Kenyataannya banyak juga kyai-kyai yang menguasai ilmu fiqh tetapi kurang menguasai ilmu hadis. Bahkan ada pula kyai yang menguasai bidang fiqih ibadah tetapi tidak menguasai ilmu falak.

Hanya saja, saat ini ada pergeseran istilah. Kalau di masa lalu seseorang yang memiliki ilmu agama di atas rata-rata dinamakan kyai, sekarang muncul pula istilah ustadz. Antara kyai dan ustadz sesungguhnya tidak berbeda. Mereka sama-sama menguasai ilmu agama yang memadahi dan juga sama-sama mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.

Dan sekarang istilah ustadz juga mengalami pengembangan. Jika pada awalnya, ustadz digunakan untuk menyebut orang yang ahli dalam agama Islam. Kini settiap orang yang mengajar di sebuah lembaga Islam disebut juga dengan ustadz.

Dengan meninjau latar belakang penyebutan kyai di atas, ustadz-ustadz yang mengajar di Assalaam pada umumnya telah memiliki ilmu agama di atas rata-rata masyarakat. Dan mereka pun juga mengajarkan ilmu agama tersebut, baik di masyarakat sekitar atau di dalam pesantren. Maka sesungguhnya para ustadz di Assalaam juga layak disebut dengan kyai. Allahu a’lam bish-shawab

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: