Skip to content

Masjid Assalaam Tidak Menghadap Kiblat (?)

Februari 20, 2009

Soal:

Salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap kiblat. Tetapi masjid Assalaam ternyata melenceng kira-kira 10º ke selatan arah Ka’bah. Bagaimana hukum shalat di Masjid Assalam, dan bagaimana kalau di masjid Assalam dibuat garis baru agar shalat bisa persis menghadap ke Ka’bah?


Jawab:

Memang benar salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap kiblat, sebagaimana difrmankan oleh Allah

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (al-Baqarah:144)

Telah terjadi ijma’ (kesepakatan) di antara ulama’ bahwa maksud al-masjid al-haram di dalam ayat di atas adalah ka’bah.

Namun soal ketepatan menghadap entitas Ka’bah menjadi perdebatan di kalangan ulama’. Sebagian mewajibkan benar-benar tepat dan sebagian tidak, melainkan cukup ke arahnya saja. Perbedaan pendapat ini didasari dari perbedaan dalam mengartikan kata syathra di dalam ayat di atas.

Sejumlah ulama’ mengartikan kata syathra dengan arah (jihah). Asy-Syaukani di dalam kitab tafsirnya Fathul Qadir menjelaskan bahwa tafsir kata syathra adalah an-nahiyah wa al-jihah. Di dalam kitab ad-Durrul Mantsur dijelaskan bahwa para shahabat seperti Ali bin abi Thalib, Ibnu Abbas, al-Barra’ bin ‘Azib, menjelaskan bahwa kata syatra bermakna arah.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa menghadap ka’bah adalah sebuah kewajiban bagi yang bisa melihatnya, adapun kepada yang tidak bisa melihatnya maka cukuplah menghadap ke arahnya saja. Yang mendasari pendapatnya ini adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas

الْبَيْتُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الْمَسْجِدِ ، وَالْمَسْجِدُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الْحَرَمِ ، وَالْحَرَمُ قِبْلَةٌ لأَهْلِ الأَرْضِ فِى مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا مِنْ أُمَّتِى

Baitullah (Ka’bah) adalah kiblat bagi orang yang ada di Masjid (al-haram), dan Masjid (al-Haram) adalah kiblat bagi penduduk (tanah) al-Haram (Mekkah dan sekitarnya), dan (tanah) al-Haram adalah kiblat bagi umatku di seantero bumi, baik di belahan timur maupun barat. (HR al-Baihaqi, dan dia menyebutkan sebagai hadis dla’if, karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Hafsh)

Maksud yang ditekankan dari hadis tersebut, bahwa menghadap Ka’bah secara tepat hanyalah kewajiban orang yang berada di dalam Masjidil Haram. Adapun orang yang di luar masjidil Haram, jika masih berada di dalam kota Makkah, ia sudah cukup jika menghadap ke masjid, mekipun jika ditarik garis lurus tidak tepat menghadap Ka’bah.

Ibnu al-‘Arabi, mengatakan bahwa adanya kewajiban menghadap bangunan Ka’bah bagi orang yang tidak melihat Ka’bah adalah pendapat yang lemah. Sebab itu berarti suatu beban yang tak bisa ditunaikan dengan baik. Karena itulah orang yang tidak melihat ka’bah cukup menghadap ke arahnya saja, berdasarkan 3 pertimbangan;

1. Itulah yang memungkinkan untuk dilaksanakan

2. Seperti itulah perintah yang terdapat didaam ayat al-Qur’an.

3. Para ulama’ beralasan dengan shaf lurus yang panjang, yang diketahui secara pasti bahwa shaf itu panjangnya berlipat ganda dari ukuran baitullah

Kemudian kalau kita memperhatikan hadis yang menceritakan peristiwa yang dialami para shahabat ketika turun ayat tentang perubahan kiblat,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَانُوا يُصَلُّونَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ } فَمَرَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَنَادَاهُمْ وَهُمْ رُكُوعٌ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَلَا إِنَّ الْقِبْلَةَ قَدْ حُوِّلَتْ إِلَى الْكَعْبَةِ مَرَّتَيْنِ فَمَالُوا كَمَا هُمْ رُكُوعٌ إِلَى الْكَعْبَةِ

Dari Anas, bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para hshabatnya dahulu shalat menghadap kea rah Baitul Maqdis, ketika turun ayat ini, “Maka palingkanlah wajahmu kea rah masjid al-haram, dan dimana saja kamu berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya”, lalu ada seorang lelaki dari Bani Salaman lewat dan menyeru mereka ketika mereka sedang ruku’ dalam shalat Fajar (Subuh) yang masih menghadap ke Baitul Maqdis, “Ketahuilah bahwa kiblat telah diubah ke ka’bah” demikian diucapkan dua kali. Maka mereka pun membalik menghadap ke ka’bah, dalam posisi mereka sedang ruku’ (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa untuk shalat tidak diperlukan pengukuran ke kiblat sehingga benar-benar tepat. Tetapi menghadap arah saja sudah cukup.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka shalat di masjid yang tidak tepat menghadap ka’bah pun tetap sah. Demikian juga shalat di masjid Jami’ Assalaam, yang posisinya kea rah kiblat kurang 10º ke utara, sudah sah.

Adapun membuat garis shof baru di dalam masjid yang sudah ada garisnya, bukan merupakan keharusan. Sebab dengan garis yang sudah ada, shalat sudah memenuhi ketentuan syari’at. Tetapi jika mencari sikap yang berhati-hati, agar dapat benar-benar meghadap kepada ka’bah, hal itu bisa dibicarakan dengan berbagai pihak yang ikut menangani masjid, agar tidak timbul mafsadah dari satu pihak dengan pihak yang lain. Allahu a’lam bish-Shawab

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: