Skip to content

Sikap Isteri Jika Diajak Berkumpul Saat Haidl

Februari 19, 2009
tags: ,

Soal

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Seandainya ada seorang wanita yang memiliki suami yang tidak sholeh, lalu ia mengajaknya untuk berjima’ di saat dia sedang haidl, Si isteri pun menolaknya dan menjelaskan kepada suaminya, namun suaminya memaksa untuk berjima’ lewat dubur, si isteri juga menolaknya, si suami malah mengancam akan mengguyurnya dengan air panas jika isterinya tetap tidak mau melayani. Apa tindakan yang harus dilakukan si isteri jika tidak ada kesempatan untuk lari, dan hanya dihadapkan kepada dua pilihan itu.

Jawab;

Wa’alaikumussalam wr. wb

Menggauli isteri ketika haidl itu haram, berdasarkan firman Allah;

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

Maka hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sehingga mereka suci. (al-Baqarah:222)

Berhubungan dengan isteri dari dubur juga haram, berdasarkan kepada penjelasan ayat

فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. (al-Baqarah:222)

Mafhum mukhalafah ayat tersebut, bahwa menggauli isteri pada dubur adalah haram.

Rasulullah saw juga melarang hubungan suami isteri pada waktu haidl atau dari dubur, di dalam hadis berikut;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda; barangsiapa mendatangi orang haidl, atau mendatangi isterinya dari duburnya, atau mendatangi dukun maka ia telah kufur terhadap apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. (HR Abu Dawud)

Terhadap hal-hal yang dilarang oleh Islam seseorang harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri. Sebab resiko melakukan hal-hal yang dilarang adalah berdosa, yang akan mengakibatkan siksa di neraka pada hari kiamat kelak.

Kita tidak perlu menjawab sesuatu yang diandai-andaikan persoalan. Tetapi kita perlu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dalam kasus ini, agar tidak menghadapi persoalan yang seperti diandaikan dalam pertanyaan ini, maka kalau mencari suami hendaklah memilih orang yang baik agamanya (shalih) sehingga tidak menuntut hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan agama Islam. Allahu a’lam bish-shawab

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: