Skip to content

ZIARAH MAKAM

Desember 10, 2009

Soal:
Apakah berziarah kubur itu dilarang? Mohon disebutkan hadis yang menjadi dalilnya. Dan Apakah berdosa orang yang berziarah ke makam wali songo?


Jawab:
Hukum ziarah ke kubur itu asalnya adalah sunnah, karena rasulullah telah menganjurkannya

عَنِ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Dari Buraidah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang silahkan berziarah” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ ».

Dari Abu Hurairah, ra, ia berkata. Nabi saw berziarah ke makam ibundanya lalu beliau menangis, dan membuat orang-orang yang ada disekitar beliau ikut menangis, lalu beliau bersabda; Aku telah memohon izin kepada Rabbku untuk meminta ampunkan kepadanya, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Dan Aku meminta izin untuk menziarahi makamnya, lalu Dia izinkan aku (untuk menziarahi), maka berziarahlah kalian ke kubur, karena ziarah itu akan mengingatkan kepada kematian (HR Muslim)

Hadis yang pertama menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melarang ziarah kubur. Setelah melihat adanya manfaat yang rajih di dalam ziarah ini maka beliau memerintahkan para shahabat untuk berziarah kubur. Perintah di dalam hadis ini disimpulkan oleh para ahli sebagai sunnah, bukan wajib.

Sedangkan hadis kedua menjelaskan bahwa di dalam berziarah kubur ada hikmah untuk mengingat kematian. Selain untuk mengingat kematian ziarah kubur juga untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal. Di antara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah saw adalah;

عَنْ عَائِشَة قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « قُولِى السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ ».

Dari ‘Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW: “Bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul SAW menjawab, “Ucapkan: (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu’min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya -insya Allah- kami pasti menyusul) (HR Muslim).

Demikianlah ziarah yang benar.

Namun sekarang ini ada orang yang berziarah bukan untuk mendo’akan mayat, dan juga bukan untuk mengingat kematian. Mereka berziarah karena ingin mendapatkan kelancaran rizki, ingin dikabulkan do’anya, bahkan ada yang ingin mendapatkan nomor buntut. Lalu mereka memohon kepada mayat, agar mendo’akan mereka yang masih hidup. Ada lagi yang meyakini dengan mendo’akan mayat yang shalih, maka orang yang ada didekatnya akan mendapat limpahan pahala dan pengabulan do’anya. Ini semua adalah ziarah kubur yang menyimpang, dan pelakunya bisa menjadi musyrik.

Setiap orang yang meninggal ada di dalam alam barzakh. Alam yang tidak terhubung dengan alam dunia, mana mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan manusia yang hidup di dunia? Orang yang sudah meninggal tidak lagi bisa berdo’a, sehingga ia perlu dido’akan, mengapa justru meminta kepada orang yang sudah meninggal? Kalau benar bisa berdo’a, tak perlu dishalatkan, tetapi disuruh shalat sendiri saja. Manusia tidak ada yang bisa dipastikan masuk sorga, jika tidak ditegaskan oleh Allah atau rasulNya sebagai penghuni sorga, dari mana munculnya keyakinan mendo’akan orang shalih lalu yang mendo’akan di dekatnya akan ikut mendapat limpahan pahalanya?

Demikian juga halnya berziarah ke makam wali songo. Asalnya adalah boleh. Tetapi bisa menjadi haram kalau cara berziarahnya menyimpang. Bahkan bisa menjadi musyrik. Seperti orang yang berkeyakinan jika telah berziarah ke makam wali songo tujuh kali, maka sama dengan berhaji di Baitullah. Selain penyimpangan dalam bentuk kemusyrikan yang telah dijelaskan di muka, bersusah payah untuk pergi ke makam wali songo juga merupakan salah satu penyim pangan. Untuk itu dalam berziarah tidak perlu susah-susah pergi ke makam wali songo yang jauh. Kalau kebetulan dekat dengan makam walisongo silakan. Apalagi kalau sampai rela bersusah payah untuk ziarah makam tetapi enggan bersusah payah untuk shalat berjama’ah di masjid.

Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Rasulullah melalui Abu Hurairah;

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى ».

Janganlah kalian bersusah payah melakukan suatu perjalanan, kecuali mennuju tiga masjid, yaitu masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha (HR Muslim)

Hadis ini melarang kita melakukan perjalanan yang berat, kecuali untuk mengunjungi ketiga masjid tersebut di atas. Larangan ini juga memasukkan larangan untuk bersusah payah ntuk berziarah ke makam-makam.

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: