Skip to content

Menggangu Orang Shalat

Oktober 11, 2009

Soal:
1- Apa hukum mengganggu orang shalat?

2- Kalau ketika shalat sarung kita lepas bagaimana? Kalau kita benahi sarung kita bagaimana ?
(Cika 7D)


Jawab
Shalat bagi seorang muslim adalah sebuah amal yang sangat penting, sebab ia merupakan rukun Islam yang kedua. Dengan shalat itulah ia mewujudkan penghambaannya kepada Allah, dan sebagai bukti pengesaannya kepada Tuhannya. Shalat adalah ibadah terpenting, yang membedakannya dengan orang kafir.

Mengingat kedudukannya yang sangat penting, mengganggu orang yang sedang shalat sehingga shalatnya tidak khusyu’ termasuk dosa besar. Tindakan mengganggu orang shalat bisa dimasukkan ke dalam firman Allah

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (al-Baqarah:114)

Merobohkan masjid bukan hanya dengan merusak bangunan masjid hingga roboh. Merobohkan masjid bisa juga dilakukan dalam bentuk merusak segala aktifitas di dalam masjid sehingga masjid tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Merusak kekhusyu’an dan mengganggu orang shalat, termasuk ke dalam aktifitas merobohkan masjid

Rasulullah saw bersabda;

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Andaikata orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui besarnya dosa yang ada padanya niscaya berhenti menunggu selama 40 tahun lebih baik dari pada melewatinya (al-Bukhari dan muslim)

Hadis ini menjelaskan orang yang sekedar lewat di depan orang shalat termasuk berdosa besar. Tingkat gangguan yang ditimbulkan oleh orang yang lewat dengan orang yang sengaja mengganggu tentu jauh, lebih parah yang disengaja untuk mengganggu. Jika lewat saja mendapatkan dosa yang besar, mafhum muwafaqahnya, sengaja mengganggu orang shalat tentu lebih besar lagi dosanya. Allahu a’lam bish-shawab

2- Membetulkan sarung ketika shalat berkaitan dengan gerakan yang dilakukan oleh orang yang shalat

Ulama’ sepakat, di dalam shalat adanya gerakan lain selain gerakan shalat jika banyak membatalkan shalat, dan jika gerakan itu sedikit tidak membatalkan shalat. Tetapi mereka tidak sepakat tentang batas banyak dan sedikitnya gerakan ini. Ulama’ Syafi’iyah mengatakan batas sedikit dan banyak adalah tiga gerakan. Tetapi pembatasan ini tidak didasari dengan dalil yang qath’i. Bahkan banyak hadis-hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah melakukan gerakan lebih dari tiga kali. Rasulullah pernah shalat sambil membukakan pintu untuk Aisyah, karena pintu berada di arah kiblat. Demikian juga beliau pernah shalat dengan menggendong Umamah puteri Zainab, sebagaimana disebutkan di dalam hadis berikut;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى فِى الْبَيْتِ وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ فَجِئْتُ فَمَشَى حَتَّى فَتَحَ لِى ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مَقَامِهِ. وَوَصَفَتْ أَنَّ الْبَابَ فِى الْقِبْلَةِ.

Dari Aisyah, ia berkata, Nabi saw pernah shalat di rumah dan pintu dalam keadaan terkunci, lalu aku datang (meminta dibukakan), beliau berjalan sehingga beliau membuka pintu untukku kemudian beliau kembali ke tampat shalatnya (melanjutkan shalat). Aisyah menyebutkan bahwa pintu ada di arah kiblat (HR Abu Dawud dan Ahmad, lafalnya dari Ahmad)

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Dari Abu Qatadah al-Anshari, bahwa Rasulullah saw pernah shalat dengan menggendong Umamah puteri Zainab binti Rasulullah saw dan Abu al-Ash bin Rabi’ah bin Abdi Syams, Jika beliau sujud beliau meletakkannya dan jika berdiri digendong kembali (al-Bukhari dan Muslim)

Gerakan yang membatalkan shalat adalah gerakan yang dilakukan layaknya tidak sedang dalam keadaan shalat. Atau gerakan-gerakan yang menyebabkan rusaknya gerakan shalat. Contohnya orang shalat berulang-ulang membungkukkan badan yang bukan ruku’.

Dan dalam membetulkan sarung, meskipun bukan termasuk dari gerakan shalat, tetapi kalau hanya sedikit tidak membatalkan shalat. Meskipun demikian, hendaklah menghemat gerakan sehingga tidak banyak bergerak, seperti sekedar menggulung sarung atau menarik ke atas. Adapun gerakan memakai sarung dari kondisi lepas sama sekali hingga akhir termasuk membatalkan shalat.

Bagaimana pun banyaknya gerakan akan merusak kekhusyu’an di dalam shalat. Ketika pakaian yang dikenakan oleh orang yang shalat kendor, maka perhatiannya tidak lagi kepada shalat, tetapi akan beralih kepada pakaiannya. Agar shalat dapat khusyu’, hendaklah pakaian disiapkan sedemikian rupa sebelum shalat dimulai, sehingga tidak melorot atau terlepas. Allahu a’lam bish-shawab

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: