Skip to content

Yasinan dan Tahlilan untuk Orang Mati

April 22, 2009

Soal:
Kalau ada orang mati, di desa-desa itu biasanya diadakan tahlilan dan do’a bersama. Apakah do’a orang-orang itu bisa sampai kepada orang yang mati?

Jawab;
Para ulama’ sepakat, mendo’akan orang muslim yang telah meninggal itu boleh, baik yang meninggal itu famili atau bukan. Di dalam al-Qur’an dikatakan;

وَالَّذِينَ جاءُ وْا مِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْـفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَ بِالاِيْمَانِ.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu berkata: Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami”.(al-Hasyr:10)

Di dalam ayat lain dikemukakan;

رَبَّنَا اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ.

“Ya Tuhan kami! Berilah ampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (Ibrahim:41)

Do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang yang beriman dan shalih akan bisa sampai dan bermanfaat kepada mayat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إذا مات الإنسان انقطع عمل إلا من ثلاث

Apabila seseorang telah meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaar, dan anak shalih yang berdo’a kepadanya

Hadis ini menunjukkan do’a seseorang bermanfaat bagi orang yang meninggal dalam keadaan beriman. Namun berdoa yang dimaksudkan di sini bukanlah dengan cara mentahlilkan, meyasinkan dan membacakan al-Quran beramai-ramai untuk si Mati sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam (orang-orang jahil) dan para pembuat bid’ah.

Mendoakan orang yang telah meninggal adalah sunnah hukumnya dan dibolehkan apabila mencontohi sunnah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya atau amalan orang-orang Salafus Shalih. Ketika berdo’a kita wajib husnudhon akan diterima oleh Allah, adapun kenyataannya kita serahkan kepada Allah untuk diterima atau ditolak.

Tetapi apa yang dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang menetapkan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau karena suatu sebab tertentu lalu mengadakan majelis yasinan atau tahlilan maka itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Sedangkan bid’ah itu amalnya tidak diterima berdasarkan Firman Allah

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلاِسْلاَمَ دِيْنًا.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu buat kamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Aku redai Islam menjadi agamamu”. (al-Maidah:3)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan Barangsiapa mencari agama selain islam, maka tidak akan diterima darinya dan di hari akhir ia termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran:85)

Ayat di atas menjelaskab bahwa islam adalah agama yang telah lengkap, sehingga tidak membutuhkan kreasi kreatif. Berbagai kreasi dan kreatifitas dalam beragama dianggap mencari ajaran selain Islam, yang tertolak. Akibatnya di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Adapun dasar dari hadis nabi, adalah Sabda Rasulullah

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan dari perintah kami (Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya) maka amalan itu tertolak”.(HR Muslim)

مَنْ اَحْدَثَ فِىْ اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌَّ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini sedangkan ia bukan (dari kami) maka ia tertolak”. (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan kepada ayat dan hadis di atas, amalan bid’ah tidak diterima Allah. Karena amalnya sendiri saja ditolak, maka do’a-do’a juga tidak diterima, dan do’a yang dipanjatkan tentunya juga tidak bermanfaat bagi yang sudah meninggal. Karena itulah jika hendak mendo’akan keluarga, atau orang tua yang sudah meninggal hendaklah menjaga tuntunan sunnah Rasulullah saw

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: