Skip to content

Celana Panjang bagi Wanita

Maret 4, 2009

Ketetapan Dewan Kyai PPMI Assalaam
no 2 tahun 1429 H

Prinsip

Dalam masalah-masalah yang bersifat keduniaan, pada asalnya segala sesuatu itu boleh, selama tidak ada ketentuan yang melarang di dalam ajaran syari’ah, sebagaimana telah dirumuskan di dalam kaidah ushul.

اْلأَصْلُ فِي اْلعَادَاتِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ مَا وَرَدَ عَنِ الشَّارِعِ تَحْرِيْمُهُ

Pada prinsipnya dalam masalah adat itu adalah boleh, kecuali jika ada pengharaman dari pembuat syari’at

Pakaian termasuk ke dalam salah satu masalah dunia yang asalnya adalah boleh, selama tidak melanggar ketentuan Syari’at. Bila dalam berpakaian mengikuti ketentuan syari’at, maka ia bisa bernilai ketaatan kepada Allah dan akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika melanggar ketentuan syari’at, maka bernilai maksiat yang akan mendapatkan dosa dari Allah.

Adapun ketentuan syar’i yang berkaitan dengan masalah pakaian antara lain;

1. Menutup aurat; termasuk di dalam ketentuan ini pakaian tidak mujassam (memperlihatkan bentuk tubuh), maka harus longgar dan tidak ketat, serta tebal tidak tipis atau transparan. Ketentuan menutup aurat telah dijelaskan di dalam ketetapan dewan kyai no 1 tahun 1425 H.

2. Tidak menyerupai pakaian kaum kafir, berdasarkan kepada keumuman hadits;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ .

Dari Ibnu Umar, ia berkata; Rasulullah shallallahyualaihi wasallam bersabda, Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka (HR Abu Dawud)

3. Pakaian wanita tidak menyerupai pakaian kaum lelaki, dan sebaliknya berdasarkan kepada hadis nabi saw

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw melaknat kaum wanita yang menyerupai kaum lelaki, dan kaum lelaki yang menyerupai kaum wanita (HR al-Bukhari dan Ashabu Sunan)

Pendapat para Ulama’
Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum kaum wanita memakai celana panjang. Ada di antara mereka yang mengharamkannya secara mutlak, ada yang membolehkan dengan bersyarat. Di antara mereka yang mengharamkan secara mutlak di antaranya adalah Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih al-Utsaimin dan lain-lain.

Syaikh Utsaimin, di dalam Jalsat Ramadlaniyyah (dengan penyesuaian redaksi) mengatakan, “Celana panjang adalah pakaian untuk kaum lelaki, dalam bentuk yang layak menutup aurat, tebal, lebar, dan panjang. Maka dengan memakai celana panjang, termasuk tasyabbuh (menyerupai) kaum lelaki”. Karena tasyabuh terhadap lelaki, maka wanita tidak diperkenankan memakai celana panjang meskipun hanya berdua dengan suaminya. Demikian juga pendapat yang diungkapkan oleh Syaikh Utsaimin di dalam kitab-kitab yang lain seperti di dalam kitab Liqa’at al-Bab al-Maftuh, ataupun asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’.

Sedangkan di antara ulama’ yang membolehkan wanita memakai celana panjang dengan syarat tertentu adalah Syaikh Abdurrahman bin Jibrin dan Dr. Abdullah al-Faqih. Syaikh Ibnu Jibrin, di dalam fatawanya membolehkan memakai celana panjang bagi wanita dengan syarat, di dalam ruangan yang hanya ada suami saja. Adapun memakai celana panjang di luar ruangan, beliau melarangnya dengan alasan bahwa memakai celana panjang itu akan memperlihatkan bentuk bagian tubuh (mujassam), seperti pantat, paha, atau betis.

Dr. Abdullah al-Faqih, pengasuh rubrik tanya jawab persoalan syari’ah di Islamweb.com membolehkan wanita memakai celana panjang di hadapan kerabat wanitanya. Sedangkan jika ia di hadapan selain kaum wanita muslim beliau melarang.

Pendapat-pendapat yang dikutip di atas merujuk kepada fatwa para ulama’ di Timur Tengah. Seseorang di dalam berfatwa tentu sesuai dengan latar belakang budaya masyarakat setempat. Meskipun demikian, setidaknya kita bisa membaca bahwa dua pendapat terakhir tersebut menunjukkan bahwa sebab larangannya bukan karena tasyabbuh kepada lelaki, melainkan untuk menghindarkan dari timbulnya fitnah. Sedang pendapat yang melarang disamping didasari kekhawatiran terhadap fitnah yang muncul, juga karena sikap berhati-hati (ikhtiyath) terhadap tasyabbuh kepada kaum lelaki.

Sikap yang berlawanan secara diametral terhadap para ulama’ di atas dilakukan oleh kaum muslimin bangsa Indonesia saat ini. Banyak wanita mengenakan celana panjang yang ketat, berbahan yang cukup tipis, atau berwarna terang yang menyebabkan tidak tertutupnya aurat secara sempurna. Fenomena ini adalah sebuah kemunkaran yang jelas, sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih nya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Ada dua golongan manusia yang termasuk ke dalam penduduk neraka, tetapi aku belum melihat keduanya. Pertama, adalah kaum yang selalu membawa cambuk seperti ekor sapi (ke mana-mana membawa senjata). Dengan cambuk itu dia memukul orang lain (secara dhalim). Kedua, wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka cenderung menyeleweng dan mengajak orang lain berbuat menyimpang. Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk sorga dan tidak akan mencium baunya meskipun baunya bisa tercium dari jarak sekian dan sekian (HR Muslim)

Hadis tersebut diungkapkan menggunakan bentuk khabar (dengan kalimat berita) namun maknanya adalah larangan terhadap hal-hal yang disebutkan di dalamnya. Salah satu di antaranya adalah orang berpakaian tetapi aurat tidak tertutup dengan sempurna.

Penerapan Di Assalaam
Adapun celana panjang untuk dijadikan pakaian yang resmi bagi wanita di PPMI Assalam harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1. Pendidikan di PPMI Assalaam berorientasi pada terwujudnya visi Assalaam, yaitu “Terwujudnya insane yang memiliki keseimbangan spiritual, intelektual dan moral menuju generasi ulul albab”. Untuk menciptakan kualitas ideal semacam itu semua pihak yang terlibat dalam aktifitas pembinaan di PPMI Assalaam harus berusaha meninggalkan beberapa hal walaupun mubah, tetapi bisa mengurangi muru’ah (harga diri) seseorang.

Persoalan mubah (yang dibolehkan oleh syari’at) memiliki tingkat yang bermacam-macam. Ada hal mubah yang jika dilakukan tidak mengurangi kehormatan seseorang, tetapi ada juga yang bisa mengurangi kehormatan seseorang. Sebagai contoh makan, adalah mubah dan jika dilakukan di rumah makan biasa tidak akan mengurangi kehormatan seseorang. Tetapi jika makan itu di kafe, yang biasanya digunakan untuk bersenang-senang yang mengarah kepada kemaksiatan, meskipun tidak diikuti dengan tindakan kemaksiatan akan mengurangi kehormatan seseorang dilihat dari kaca mata spirit dan moral Islam.

Demikian halnya dengan memakai celana panjang bagi kaum wanita. Meskipun bila diambil pendapat yang paling ringan, yaitu mubah, namun dalam hal ini akan bisa menurunkan muru’ah dan izzah seseorang. Dalam kaca mata umum, seorang wanita dengan memakai baju (rok) panjang sampai mata kaki akan tampak lebih taat kepada agama dibandingkan dengan wanita yang memakai celana panjang.

2. Ketentuan boleh dan tidaknya sesuatu secara kelembagaan juga harus mempertimbangkan kecenderungan yang ada di dalam lembaga tersebut. Khususnya di PPMI Assalaam, ada kecenderungan tasahul (longgar) dalam menyikapi aturan yang telah ditetapkan. Apabila peraturan diambil berdasarkan standar minimal syariat, dan disikapi secara tasahul pula oleh civitas akademik, maka akan muncul berbagai penyimpangan dari syari’at. Bisa jadi kebolehan memakai celana panjang saat ini masih sesuai dengan ketentuan syari’at, tetapi kebiasaan tasahul itu akan menyebabkan munculnya bermacam-macam model yang menyimpang dari aturan syari’at di masa yang akan datang.

Adanya kecenderungan tasahul (longgar) ini di lapangan bisa dilihat dari berbagai penyimpangan cara berpakaian santri. Ketentuan seragam yang sudah baik masih sering disiasati oleh santri dengan berbagai cara yang menyebabkan kurang terpenuhinya standar syar’i. Sementara itu perangkat dan aparat penegak aturan belum bisa menjangkau semua bentuk penyimpangan dan mengambil sikap secara tegas. Maka dalam hal ini lebih tepat untuk diterapkan kaidah ushul,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghindarkan kerusakan harus didahulukan dari pada membuat kemaslahatan.

3. Kebutuhan memakai celana panjang adalah dalam rangka melindungi kaum wanita (santriwati dan ustadzah) dari tersingkapnya aurat (betis) ketika menaiki tangga di gedung-gedung bertingkat, naik mobil ataupun sepeda motor dll. Persoalan ini tidak perlu diperluas dan digeneralisir ke dalam semua aktifitas di PPMI Assalaam, melainkan harus tetap diletakkan sesuai dengan porsinya.

4. Ustadzah di lingkungan PPMI Assalam, yang tugas utamanya mengajarkan ilmu kepada anak tidak membutuhkan gerakan-gerakan pada bagian tungkai bawah (kaki) yang terlalu banyak. Demikian juga santriwati yang tugas utamanya belajar juga tidak membutuhkan gerakan ekstra. Karena itu pakaian yang selama ini sudah berjalan, dilihat dari aspek dinamisitas, mobilitas atau modernitas pun tidak ada persoalan. Justru yang menjadi kendala mobilitas adalah ketika model pakaian bawah terlalu sempit sehingga menyulitkan gerak. Adapun gerakan ekstra bagi santriwati dan ustadzah hanya sesekali terjadi, khususnya ketika olah raga, out bond, pramuka dan kegiatan-kegiatan sejenisnya.

Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, maka Dewan Kyai menetapkan bahwa pemakaian celana panjang sebagai seragam resmi bagi ustadzah dan santriwati di PPMI Assalam hanya dibolehkan untuk kegiatan yang menuntut aktivitas ekstra seperti olah raga, out bond dan sejenisnya. Itupun dengan catatan agar model celana panjang untuk wanita dibuat berbeda dengan celana panjang untuk kaum lelaki sehingga tidak ada unsur tasyabbuh. Adapun untuk pakaian seragam harian memakai celana panjang dibolehkan apabila tetap ditutup dengan baju (rok) yang panjang sampai menutup mata kaki.

Allahu a’lam bish-shawab.

Assalaam, 26 Jumadil Ula 1429 H
1 J u n i 2008 M

Dewan Kyai

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: