Skip to content

Batasan Hubungan Laki-laki dan Perempuan

Februari 23, 2009

Soal:
Assalamu’alaikum wwr. wb.
Ustadz, mohon dijelaskan tentang adab-adab hubungan antara putra dan putri.


Jawab
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Hubungan sesama jenis, dalam masyarakat manapun tidak terlalu berbahaya karena potensi timbulnya penyimpangan tidak terlalu besar. Namun dalam hubungan pergaulan antara seorang lelaki dan seorang wanita sangat potensial menimbulkan penyimpangan. Karena alasan inilah Islam memberikan batasan yang sangat ketat. Beberapa ketentuan dasar dalam hubungan antara laki-laki dengan perempuan di dalam al-Qur’an dan hadis nabi saw, adalah sebagai berikut

a. Batasan Memandang dan Aurat
Islam memerintahkan agar orang beriman baik laki-laki maupun wanita menahan pandangannya ketika menghadapi sesuatu yang potensial terhadap fitnah. Itulah alasannya mengapa Islam melarang seseorang saling berpandangan dengan lawan jenisnya. Larangan ini didasarkan kepada ayat al-Qur’an dan hadis nabi

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui terhadap apa yang mereka lakukan” (an-Nur:30)

Selain itu juga hadis dari Jarir bin Abdullah ra ia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ اصْرِفْ بَصَرَكَ

“Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang [lawan-jenis] secara tiba-tiba [tanpa disengaja]. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah –‘azza wa jalla- telah menetapkan bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (Al-Bukhari-Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Rasulullah saw bersabda kepada Ali, Wahai Ali, Jangan kau ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (selanjutnya), karena bagimu (pandangan) yang pertama dan bukan bagimu pandangan yang lainnya

Untuk memudahkan kaum mukminin dalam menahan pandangan, maka Allah menegaskan agar kaum mukminin pada umumnya menutup aurat. Diharapkan dengan tertutupmya aurat semakin kecil kemungkinan timbulnya fitnah. Firman Allah tentang menutup aurat adalah

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, (an-Nur:31)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (al-Ahzab:59)

b. Larangan khalwat dan safar tanpa disertai mahram.

Aturan kedua yang sangat ditekankan oleh Islam adalah berdua-duaan dengan lawan jenis. Larangan ini terdapat di dalam hadis nabi saw

عن ابْنِ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Dsari Ibnu Abbas, ia berkata, Aku mendengar nabi saw berkhutbah, beliau berkata, janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita mengadakan perjalanan panjang (safar) melainkan bersama mahramnya. Lalu ada seorang lelaki ada yang berdiri lalu berseru, Wahai rasulullah saw, sesungguhnya isteriku keluar rumah karena ada keperluan (berhaji) sementara aku sudah mendaftarkan diri untuk ikut ke dalam peperangan ini dan ini. Rasulullah bersabda, “Pulanglah, lalu berhajilah bersama isterimu” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Larangan seorang wanita bepergian seorang diri menuju Baitullah diperselisihkan oleh para ulama’. Sebagian Ulama’, seperti Imama asy-Syafi’i melarang wanita pergi haji seorang diri tanpa mahram, kecuali untuk melaksanakan haji wajib. Tetapi ada juga yang melarang secara mutlak.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw bersabda, jauhilah oleh kalian menemui wanita. Lalu ada seorang pria bertanya, Wahai Rasulullah apakah pendapat engkau tentang ipar. Beliau menjawab, “Ipar itu adalah kematian” (at-Tirmidzi)

لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

Janganlah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita, karena yang ketiganya adalah syetan (Tirmidzi dan Ahmad)

c. Larangan bersentuhan kulit

Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).

Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam.

عن مَعْقِلَ بن يَسَارٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ”

Dari Ma’qil bin Yassar, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR ath-Thabrani)

d- Meskipun Islam telah membatasi dengan aturan yang super ketat, tetapi tetap juga memerikan peluang untuk bisa terjadi hubungan antara lelaki dengan wanita. Hanya saja, hubungan ini adalah hubungan yang bersifat umum, seperti pendidikan, jual beli, pengobatan dan lain-lain. Adapun hubungan khusus antara lelaki dan wanita, seperti saling mengunjungi, mengadakan wisata bersama, dan yang semacamnya. Allahu a’lam bish-shawab

About these ads
No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: